Saatnya Bank Daerah Adopsi Agentic AI untuk Tingkatkan Daya Saing

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Meski berfokus pada layanan perbankan di daerah, Bank Pembangunan Daerah (BPD) tetap dituntut untuk meningkatkan daya saing di tengah percepatan transformasi industri keuangan yang berkembang sangat cepat. Berdasarkan data Asosiasi Bank Daerah (Asbanda), saat ini terdapat 27 BPD di Indonesia yang terdiri dari 24 BPD konvensional dan 3 BPD syariah, seluruhnya memegang peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi daerah.

Sebagai institusi yang berkontribusi langsung pada pembangunan daerah, BPD–layaknya bank nasional–menghadapi tantangan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat keamanan siber, menjaga kepatuhan regulasi, sekaligus menghadirkan layanan digital yang relevan dan kompetitif.

Salah satu cara untuk itu adalah dengan memanfaatkan Agentic AI yang dibangun pada fondasi platform AI yang aman, terstandarisasi, dan dapat dioperasikan secara onpremise untuk memenuhi kebutuhan regulasi dan pengelolaan data sensitif perbankan. Platform seperti inilah yang memungkinkan BPD mengadopsi Agentic AI dengan lebih efektif.

Dalam acara BPD Forum ke-20 bertema “Securing Financial Transformation: Navigating Change, Driving Impact with Agentic AI” yang diselenggarakan oleh PT Multipolar Technology Tbk dan Asbanda di Bali pada 11-13 Februari 2026, Senior Vice President Multipolar Technology Achmad Fakhrudin menegaskan bahwa Agentic AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan enabler strategis bagi transformasi BPD.

“Pemanfaatan Agentic AI menjadi kunci untuk membuka nilai bisnis baru sekaligus memperkuat daya saing perbankan daerah di tengah percepatan inovasi teknologi serta tekanan kompetisi dari fintechneobank, dan channel bisnis lainnya,” ungkap Achmad di hadapan perwakilan BPD dari seluruh Indonesia. “Ini bukan lagi tentang proyeksi, ini tentang mewujudkan manfaat,” tambahnya.●

Platform AI Jadi Fondasi Implementasi Agentic AI

Implementasi awal Agentic AI dapat difokuskan pada empat use case utama, antara lain AI Ops untuk optimalisasi operasional, AI-Driven Security untuk meningkatkan perlindungan keamanan siber, AI Testing untuk mempercepat siklus pengujian sistem, dan AI Transaction Network Analysis untuk analisis pola transaksi dan deteksi risiko. Keempatnya memberikan dampak optimal bila dijalankan di atas platform AI yang menyediakan orkestrasi model, automasi pipelinemonitoring, serta tata kelola AI yang jelas.

Sebagai system integrator yang telah berpengalaman mendampingi berbagai institusi keuangan terkemuka di Indonesia, Multipolar Technology juga memastikan integrasi Agentic AI dapat berjalan harmonis dengan core banking, digital channel, maupun sistem pendukung lainnya yang telah dimiliki BPD. Kini, lanjut Achmad, adopsi Agentic AI telah berkembang dari tahap eksperimental ke tahap implementasi nyata yang menghasilkan nilai bisnis.

Pentingnya Fondasi Data

Vice President Divisi AI dan Big Data Analytics PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Robby Indarto dalam sesi Expert Sharing pada kesempatan yang sama menekankan bahwa keberhasilan implementasi Agentic AI, salah satunya bergantung pada kesiapan data. Menurutnya, sebelum mengembangkan AI, termasuk Agentic AI, bank—tak terkecuali BPD—harus mempersiapkan datanya yang valid dan reliable, juga analytics-nya

“Di bank-bank besar seperti BNI, analytics itu ada dua jenis, yaitu data analytics atau business analytics dan data scienceData analytics berfokus pada apa yang sudah terjadi, sedangkan data science lebih maju lagi karena menggunakan data dan AI untuk membuat prediksi dan model cerdas, termasuk mengotomatisasi pengambilan keputusan,” jelasnya.

Jadi, AI, lebih spesifik lagi Agentic AI, berperan penting dalam membangun organisasi menjadi lebih cerdas, lebih aman, lebih efisien, lebih personal, dan lebih otomatis. Multipolar Technology meyakini transformasi digital BPD akan semakin berdampak apabila dijalankan dengan fondasi teknologi semacam itu, apalagi disertai tata kelola yang baik sekaligus kolaborasi yang tepat antara industri perbankan dan jaringan mitra lainnya.

“Agentic AI bisa menjadi akselerator transformasi BPD menuju organisasi yang lebih cerdas, aman, efisien, dan adaptif. Dengan pendekatan yang terukur serta fondasi teknologi yang kuat, Multipolar Technology berkomitmen menjadi mitra strategis BPD dalam menghadirkan inovasi digital yang berdampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan layanan kepada masyarakat,” pungkas Achmad.

Perlunya Adopsi Agentic AI untuk Akselerasi Transformasi BPD

Meski berfokus pada layanan perbankan di daerah, Bank Pembangunan Daerah (BPD) tetap dituntut untuk meningkatkan daya saing di tengah percepatan transformasi industri keuangan yang berkembang sangat cepat. Berdasarkan data Asosiasi Bank Daerah (Asbanda), saat ini terdapat 27 BPD di Indonesia yang terdiri dari 24 BPD konvensional dan 3 BPD syariah, seluruhnya memegang peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi daerah.

Sebagai institusi yang berkontribusi langsung pada pembangunan daerah, BPD–layaknya bank nasional–menghadapi tantangan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat keamanan siber, menjaga kepatuhan regulasi, sekaligus menghadirkan layanan digital yang relevan dan kompetitif. Salah satu cara untuk itu adalah dengan memanfaatkan Agentic AI yang dibangun pada fondasi platform AI yang aman, terstandarisasi, dan dapat dioperasikan secara on‑premise untuk memenuhi kebutuhan regulasi dan pengelolaan data sensitif perbankan. Platform seperti inilah yang memungkinkan BPD mengadopsi Agentic AI dengan lebih efektif.

“Pemanfaatan Agentic AI menjadi kunci untuk membuka nilai bisnis baru sekaligus memperkuat daya saing perbankan daerah di tengah percepatan inovasi teknologi serta tekanan kompetisi dari fintechneobank, dan channel bisnis lainnya. Ini bukan lagi tentang proyeksi, ini tentang mewujudkan manfaat,” ujar Senior Vice President Multipolar Technology Achmad Fakhrudin dalam BPD Forum ke-20 bertema Securing Financial Transformation: Navigating Change, Driving Impact with Agentic AI belum lama ini di Bali, mengutip keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin (2/3/2026.

Implementasi awal Agentic AI dapat difokuskan pada empat use case utama, yakni AI Ops untuk optimalisasi operasional, AI-Driven Security untuk meningkatkan perlindungan keamanan siber, AI Testing untuk mempercepat siklus pengujian sistem, dan AI Transaction Network Analysis untuk analisis pola transaksi dan deteksi risiko. Keempatnya memberikan dampak optimal bila dijalankan di atas platform AI yang menyediakan orkestrasi model, automasi pipeline, monitoring, serta tata kelola AI yang jelas.

Sebagai system integrator yang telah berpengalaman mendampingi berbagai institusi keuangan terkemuka di Indonesia, Multipolar Technology juga memastikan integrasi Agentic AI dapat berjalan harmonis dengan core bankingdigital channel, maupun sistem pendukung lainnya yang telah dimiliki BPD. Kini, lanjut Achmad, adopsi Agentic AI telah berkembang dari tahap eksperimental ke tahap implementasi nyata yang menghasilkan nilai bisnis.

Pentingnya Fondasi Data

Vice President Divisi AI dan Big Data Analytics PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Robby Indarto, dalam sesi Expert Sharing pada kesempatan yang sama menekankan bahwa keberhasilan implementasi Agentic AI, salah satunya bergantung pada kesiapan data. Menurutnya, sebelum mengembangkan AI, termasuk Agentic AI, bank—tak terkecuali BPD—harus mempersiapkan datanya yang valid dan reliable, juga analytics-nya

“Di bank-bank besar seperti BNI, analytics itu ada dua jenis, yaitu data analytics atau business analytics dan data science. Data analytics berfokus pada apa yang sudah terjadi, sedangkan data science lebih maju lagi karena menggunakan data dan AI untuk membuat prediksi dan model cerdas, termasuk mengotomatisasi pengambilan keputusan,” jelasnya.

Jadi, AI, lebih spesifik lagi Agentic AI, berperan penting dalam membangun organisasi menjadi lebih cerdas, lebih aman, lebih efisien, lebih personal, dan lebih otomatis. Multipolar Technology meyakini transformasi digital BPD akan semakin berdampak apabila dijalankan dengan fondasi teknologi semacam itu, apalagi disertai tata kelola yang baik sekaligus kolaborasi yang tepat antara industri perbankan dan jaringan mitra lainnya.

“Agentic AI bisa menjadi akselerator transformasi BPD menuju organisasi yang lebih cerdas, aman, efisien, dan adaptif. Dengan pendekatan yang terukur serta fondasi teknologi yang kuat, Multipolar Technology berkomitmen menjadi mitra strategis BPD dalam menghadirkan inovasi digital yang berdampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan layanan kepada masyarakat,” pungkas Achmad.

Agentic AI jadi Solusi Percepatan Transformasi Bank Pembangunan Daerah

Warta Ekonomi, Jakarta – Data dari Asosiasi Bank Daerah (Asbanda) mencatat bahwa saat ini terdapat 27 Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Indonesia yang terdiri dari 24 bank konvensional dan 3 bank syariah. Seluruh institusi ini memegang peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi di wilayahnya masing-masing.

Sebagai institusi yang berkontribusi langsung pada pembangunan daerah, BPD menghadapi tantangan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat keamanan siber, menjaga kepatuhan regulasi, sekaligus menghadirkan layanan digital yang relevan dan kompetitif.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemanfaatan teknologi canggih menjadi sebuah keharusan. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah dengan memanfaatkan Agentic AI yang dibangun pada fondasi platform AI yang aman, terstandarisasi, dan dapat dioperasikan secara on‑premise untuk memenuhi kebutuhan regulasi dan pengelolaan data sensitif perbankan. Platform seperti inilah yang memungkinkan BPD mengadopsi Agentic AI dengan lebih efektif.

Gagasan ini mengemuka dalam acara BPD Forum ke-20 bertema “Securing Financial Transformation: Navigating Change, Driving Impact with Agentic AI” yang diselenggarakan oleh PT Multipolar Technology Tbk dan Asbanda di Bali pada 11-13 Februari 2026.

Dalam forum tersebut, Senior Vice President Multipolar Technology Achmad Fakhrudin menegaskan bahwa teknologi ini bukan lagi sekadar wacana.

“Pemanfaatan Agentic AI menjadi kunci untuk membuka nilai bisnis baru sekaligus memperkuat daya saing perbankan daerah di tengah percepatan inovasi teknologi serta tekanan kompetisi dari fintech, neobank, dan channel bisnis lainnya,” ungkap Achmad di hadapan perwakilan BPD dari seluruh Indonesia.

Achmad Fakhrudin kemudian memaparkan bahwa penerapan awal Agentic AI dapat difokuskan pada empat area utama.

Keempatnya meliputi AI Ops untuk optimalisasi operasional, AI-Driven Security untuk meningkatkan perlindungan keamanan siber, AI Testing untuk mempercepat siklus pengujian sistem, dan AI Transaction Network Analysis untuk analisis pola transaksi dan deteksi risiko.

Sebagai sistem integrator yang telah berpengalaman mendampingi berbagai institusi keuangan terkemuka di Indonesia, Multipolar Technology memastikan integrasi Agentic AI dapat berjalan harmonis dengan core bankingdigital channel, maupun sistem pendukung lainnya yang telah dimiliki BPD.

Selain platform, kesiapan internal juga menjadi faktor penentu. Vice President Divisi AI dan Big Data Analytics PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Robby Indarto dalam sesi Expert Sharing pada kesempatan yang sama menekankan bahwa keberhasilan implementasi Agentic AI, salah satunya bergantung pada kesiapan data. Menurutnya, sebelum mengembangkan AI, termasuk Agentic AI, bank, tak terkecuali BPD, harus mempersiapkan datanya yang valid dan reliable, juga analytics-nya.

“Di bank-bank besar seperti BNI, analytics itu ada dua jenis, yaitu data analytics atau business analytics dan data scienceData analytics berfokus pada apa yang sudah terjadi, sedangkan data science lebih maju lagi karena menggunakan data dan AI untuk membuat prediksi dan model cerdas, termasuk mengotomatisasi pengambilan keputusan,” jelasnya.

Dengan fondasi data dan platform yang kuat, adopsi Agentic AI diyakini dapat membawa dampak signifikan. Jadi, AI, lebih spesifik lagi Agentic AI, berperan penting dalam membangun organisasi menjadi lebih cerdas, lebih aman, lebih efisien, lebih personal, dan lebih otomatis.

Multipolar Technology meyakini transformasi digital BPD akan semakin berdampak apabila dijalankan dengan fondasi teknologi semacam itu, apalagi disertai tata kelola yang baik sekaligus kolaborasi yang tepat antara industri perbankan dan jaringan mitra lainnya. Sebagai penutup, Achmad Fakhrudin menyampaikan komitmen perusahaannya.

“Agentic AI bisa menjadi akselerator transformasi BPD menuju organisasi yang lebih cerdas, aman, efisien, dan adaptif. Dengan pendekatan yang terukur serta fondasi teknologi yang kuat, Multipolar Technology berkomitmen menjadi mitra strategis BPD dalam menghadirkan inovasi digital yang berdampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan layanan kepada masyarakat,” pungkas Achmad.

Multipolar Technology Dorong Adopsi Agentic AI untuk Akselerasi Transformasi BPD

MAJALAH ICT – Jakarta. Meski berfokus pada layanan perbankan di daerah, Bank Pembangunan Daerah (BPD) tetap dituntut untuk meningkatkan daya saing di tengah percepatan transformasi industri keuangan yang berkembang sangat cepat. Berdasarkan data Asosiasi Bank Daerah (Asbanda), saat ini terdapat 27 BPD di Indonesia yang terdiri dari 24 BPD konvensional dan 3 BPD syariah, seluruhnya memegang peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi daerah.

Sebagai institusi yang berkontribusi langsung pada pembangunan daerah, BPD–layaknya bank nasional–menghadapi tantangan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat keamanan siber, menjaga kepatuhan regulasi, sekaligus menghadirkan layanan digital yang relevan dan kompetitif.

Salah satu cara untuk itu adalah dengan memanfaatkan Agentic AI yang dibangun pada fondasi platform AI yang aman, terstandarisasi, dan dapat dioperasikan secara on‑premise untuk memenuhi kebutuhan regulasi dan pengelolaan data sensitif perbankan. Platform seperti inilah yang memungkinkan BPD mengadopsi Agentic AI dengan lebih efektif.

Dalam acara BPD Forum ke-20 bertema “Securing Financial Transformation: Navigating Change, Driving Impact with Agentic AI” yang diselenggarakan oleh PT Multipolar Technology Tbk dan Asbanda di Bali pada 11-13 Februari 2026, Senior Vice President Multipolar Technology Achmad Fakhrudin menegaskan bahwa Agentic AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan enabler strategis bagi transformasi BPD.

“Pemanfaatan Agentic AI menjadi kunci untuk membuka nilai bisnis baru sekaligus memperkuat daya saing perbankan daerah di tengah percepatan inovasi teknologi serta tekanan kompetisi dari fintech, neobank, dan channel bisnis lainnya,” ungkap Achmad di hadapan perwakilan BPD dari seluruh Indonesia. “Ini bukan lagi tentang proyeksi, ini tentang mewujudkan manfaat,” tambahnya.

Platform AI Jadi Fondasi Implementasi Agentic AI

Implementasi awal Agentic AI dapat difokuskan pada empat use case utama, antara lain AI Ops untuk optimalisasi operasional, AI-Driven Security untuk meningkatkan perlindungan keamanan siber, AI Testing untuk mempercepat siklus pengujian sistem, dan AI Transaction Network Analysis untuk analisis pola transaksi dan deteksi risiko. Keempatnya memberikan dampak optimal bila dijalankan di atas platform AI yang menyediakan orkestrasi model, automasi pipeline, monitoring, serta tata kelola AI yang jelas.

Sebagai system integrator yang telah berpengalaman mendampingi berbagai institusi keuangan terkemuka di Indonesia, Multipolar Technology juga memastikan integrasi Agentic AI dapat berjalan harmonis dengan core banking, digital channel, maupun sistem pendukung lainnya yang telah dimiliki BPD. Kini, lanjut Achmad, adopsi Agentic AI telah berkembang dari tahap eksperimental ke tahap implementasi nyata yang menghasilkan nilai bisnis.

Pentingnya Fondasi Data

Vice President Divisi AI dan Big Data Analytics PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Robby Indarto dalam sesi Expert Sharing pada kesempatan yang sama menekankan bahwa keberhasilan implementasi Agentic AI, salah satunya bergantung pada kesiapan data. Menurutnya, sebelum mengembangkan AI, termasuk Agentic AI, bank—tak terkecuali BPD—harus mempersiapkan datanya yang valid dan reliable, juga analytics-nya

“Di bank-bank besar seperti BNI, analytics itu ada dua jenis, yaitu data analytics atau business analytics dan data science. Data analytics berfokus pada apa yang sudah terjadi, sedangkan data science lebih maju lagi karena menggunakan data dan AI untuk membuat prediksi dan model cerdas, termasuk mengotomatisasi pengambilan keputusan,” jelasnya.

Jadi, AI, lebih spesifik lagi Agentic AI, berperan penting dalam membangun organisasi menjadi lebih cerdas, lebih aman, lebih efisien, lebih personal, dan lebih otomatis. Multipolar Technology meyakini transformasi digital BPD akan semakin berdampak apabila dijalankan dengan fondasi teknologi semacam itu, apalagi disertai tata kelola yang baik sekaligus kolaborasi yang tepat antara industri perbankan dan jaringan mitra lainnya.

“Agentic AI bisa menjadi akselerator transformasi BPD menuju organisasi yang lebih cerdas, aman, efisien, dan adaptif. Dengan pendekatan yang terukur serta fondasi teknologi yang kuat, Multipolar Technology berkomitmen menjadi mitra strategis BPD dalam menghadirkan inovasi digital yang berdampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan layanan kepada masyarakat,” pungkas Achmad.

Agentic AI Bakal Perkuat Daya Saing BPD di Sektor Perbankan

JawaPos.com – Bank Pembangunan Daerah (BPD) terus berinovasi dengan meningkatkan daya saing di tengah percepatan transformasi industri keuangan yang berkembang sangat cepat. Data Asosiasi Bank Daerah (Asbanda) mencatat terdapat 27 BPD di Indonesia yang terdiri dari 24 BPD konvensional dan 3 BPD syariah, seluruhnya memegang peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi daerah.

Sebagai institusi yang berkontribusi langsung pada pembangunan daerah, BPD–layaknya bank nasional–menghadapi tantangan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat keamanan siber, menjaga kepatuhan regulasi, sekaligus menghadirkan layanan digital yang relevan dan kompetitif.

Salah satu cara yang dilakukan dengan memanfaatkan Agentic AI yang dibangun pada fondasi platform AI yang aman, terstandarisasi, dan dapat dioperasikan secara on‑premise untuk memenuhi kebutuhan regulasi dan pengelolaan data sensitif perbankan. Platform seperti inilah yang memungkinkan BPD mengadopsi Agentic AI dengan lebih efektif.

Dalam acara BPD Forum ke-20 bertema “Securing Financial Transformation: Navigating Change, Driving Impact with Agentic AI” kolaborasi PT Multipolar Technology Tbk dan Asbanda di Bali, Senior Vice President Multipolar Technology Achmad Fakhrudin menegaskan bahwa Agentic AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan enabler strategis bagi transformasi BPD.

“Pemanfaatan Agentic AI menjadi kunci untuk membuka nilai bisnis baru sekaligus memperkuat daya saing perbankan daerah di tengah percepatan inovasi teknologi serta tekanan kompetisi dari fintech, neobank, dan channel bisnis lainnya,” ungkap Achmad di hadapan perwakilan BPD dari seluruh Indonesia. “Ini bukan lagi tentang proyeksi, ini tentang mewujudkan manfaat,” tambahnya.

Implementasi awal Agentic AI dapat difokuskan pada empat use case utama, antara lain AI Ops untuk optimalisasi operasional, AI-Driven Security untuk meningkatkan perlindungan keamanan siber, AI Testing untuk mempercepat siklus pengujian sistem, dan AI Transaction Network Analysis untuk analisis pola transaksi dan deteksi risiko. Keempatnya memberikan dampak optimal bila dijalankan di atas platform AI yang menyediakan orkestrasi model, automasi pipeline, monitoring, serta tata kelola AI yang jelas.

“Agentic AI bisa menjadi akselerator transformasi BPD menuju organisasi yang lebih cerdas, aman, efisien, dan adaptif. Dengan pendekatan yang terukur serta fondasi teknologi yang kuat, Multipolar Technology berkomitmen menjadi mitra strategis BPD dalam menghadirkan inovasi digital yang berdampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan layanan kepada masyarakat,” pungkas Achmad

Multipolar Technology Dorong Adopsi Agentic AI untuk Akselerasi Transformasi BPD

Iconomics – Meski berfokus pada layanan perbankan di daerah, Bank Pembangunan Daerah (BPD) tetap dituntut untuk meningkatkan daya saing di tengah percepatan transformasi industri keuangan yang berkembang sangat cepat.

Berdasarkan data Asosiasi Bank Daerah (Asbanda), saat ini terdapat 27 BPD di Indonesia yang terdiri dari 24 BPD konvensional dan 3 BPD syariah, seluruhnya memegang peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi daerah.

Sebagai institusi yang berkontribusi langsung pada pembangunan daerah, BPD–layaknya bank nasional–menghadapi tantangan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat keamanan siber, menjaga kepatuhan regulasi, sekaligus menghadirkan layanan digital yang relevan dan kompetitif.

Salah satu cara untuk itu adalah dengan memanfaatkan Agentic AI yang dibangun pada fondasi platform AI yang aman, terstandarisasi, dan dapat dioperasikan secara onpremise untuk memenuhi kebutuhan regulasi dan pengelolaan data sensitif perbankan. Platform seperti inilah yang memungkinkan BPD mengadopsi Agentic AI dengan lebih efektif.

Dalam acara BPD Forum ke-20 bertema “Securing Financial Transformation: Navigating Change, Driving Impact with Agentic AI” yang diselenggarakan oleh PT Multipolar Technology Tbk dan Asbanda di Bali pada 11-13 Februari 2026, Senior Vice President Multipolar Technology Achmad Fakhrudin menegaskan bahwa Agentic AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan enabler strategis bagi transformasi BPD.

“Pemanfaatan Agentic AI menjadi kunci untuk membuka nilai bisnis baru sekaligus memperkuat daya saing perbankan daerah di tengah percepatan inovasi teknologi serta tekanan kompetisi dari fintechneobank, dan channel bisnis lainnya,” ungkap Achmad di hadapan perwakilan BPD dari seluruh Indonesia. “Ini bukan lagi tentang proyeksi, ini tentang mewujudkan manfaat,” tambahnya.

Implementasi awal Agentic AI dapat difokuskan pada empat use case utama, antara lain AI Ops untuk optimalisasi operasional, AI-Driven Security untuk meningkatkan perlindungan keamanan siber, AI Testing untuk mempercepat siklus pengujian sistem, dan AI Transaction Network Analysis untuk analisis pola transaksi dan deteksi risiko. Keempatnya memberikan dampak optimal bila dijalankan di atas platform AI yang menyediakan orkestrasi model, automasi pipelinemonitoring, serta tata kelola AI yang jelas.

Sebagai system integrator yang telah berpengalaman mendampingi berbagai institusi keuangan terkemuka di Indonesia, Multipolar Technology juga memastikan integrasi Agentic AI dapat berjalan harmonis dengan core banking, digital channel, maupun sistem pendukung lainnya yang telah dimiliki BPD. Kini, lanjut Achmad, adopsi Agentic AI telah berkembang dari tahap eksperimental ke tahap implementasi nyata yang menghasilkan nilai bisnis.

Vice President Divisi AI dan Big Data Analytics PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Robby Indarto dalam sesi Expert Sharing pada kesempatan yang sama menekankan bahwa keberhasilan implementasi Agentic AI, salah satunya bergantung pada kesiapan data. Menurutnya, sebelum mengembangkan AI, termasuk Agentic AI, bank—tak terkecuali BPD—harus mempersiapkan datanya yang valid dan reliable, juga analytics-nya

“Di bank-bank besar seperti BNI, analytics itu ada dua jenis, yaitu data analytics atau business analytics dan data scienceData analytics berfokus pada apa yang sudah terjadi, sedangkan data science lebih maju lagi karena menggunakan data dan AI untuk membuat prediksi dan model cerdas, termasuk mengotomatisasi pengambilan keputusan,” jelasnya.

Jadi, AI, lebih spesifik lagi Agentic AI, berperan penting dalam membangun organisasi menjadi lebih cerdas, lebih aman, lebih efisien, lebih personal, dan lebih otomatis. Multipolar Technology meyakini transformasi digital BPD akan semakin berdampak apabila dijalankan dengan fondasi teknologi semacam itu, apalagi disertai tata kelola yang baik sekaligus kolaborasi yang tepat antara industri perbankan dan jaringan mitra lainnya.

“Agentic AI bisa menjadi akselerator transformasi BPD menuju organisasi yang lebih cerdas, aman, efisien, dan adaptif. Dengan pendekatan yang terukur serta fondasi teknologi yang kuat, Multipolar Technology berkomitmen menjadi mitra strategis BPD dalam menghadirkan inovasi digital yang berdampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan layanan kepada masyarakat,” pungkas Achmad.

Industri BPD Didorong Adopsi Agentic AI untuk Akselerasi Transformasi Digital

Jakarta – Transformasi digital menjadi salah satu tantangan yang dihadapi industri Bank Pembangunan Daerah (BPD). Bank daerah dituntut untuk meningkatkan daya saing sekaligus menjadi katalisator pembangunan daerah.

Bankir-bankir BPD juga dituntut untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat keamanan siber serta menjaga kepatuhan regulasi. Di saat yang sama, harus berinovasi menghadirkan layanan digital yang relevan dan kompetitif.

Menjawab tantangan tersebut, industri BPD didorong untuk mengadosi agentic AI secara efektif. Agentic AI yang dibangun dengan fondasi platform AI yang aman, terstandarisasi, dan bis dioperasikan secara on premise, bisa memenuhi kebutuhan regulasi dan pengelolaan data sensitif perbankan.

Hal itu mengemuka dalam BPD Forum ke-20 “Securing Financial Transformation: Navigating Change, Driving Impact with Agentic AI” yang digelar PT Multipolar Technology Tbk dan Asosiasi Bank Daerah (Asbanda) di Bali beberapa waktu lalu.

“Pemanfaatan Agentic AI menjadi kunci untuk membuka nilai bisnis baru sekaligus memperkuat daya saing perbankan daerah di tengah percepatan inovasi teknologi serta tekanan kompetisi dari fintech, neobank, dan channel bisnis lainnya,” jelas Senior Vice President Multipolar Technology Achmad Fakhrudin, dalam keterangan resmi, Sabtu, 28 Februari 2026.

Ia menegaskan, agentic AI bukan hanya tren teknologi, tapi bisa menjadi enabler strategis bagi transformasi BPD.

Fondasi Implementasi Agentic AI

Implementasi awal agentic AI dapat difokuskan pada empat use case utama, antara lain AI Ops untuk optimalisasi operasional, AI-Driven Security untuk meningkatkan perlindungan keamanan siber, AI Testing untuk mempercepat siklus pengujian sistem, dan AI Transaction Network Analysis untuk analisis pola transaksi dan deteksi risiko.

Keempatnya akan membawa manfaat optimal jika di atas platform AI yang menyediakan orkestrasi model, automasi pipeline, monitoring, serta tata kelola AI yang jelas.

Multipolar Technology menekankan bahwa integrasi agentic AI dapat berjalan harmonis dengan core banking, digital channel, maupun sistem pendukung lainnya yang telah dimiliki BPD.

“Adopsi Agentic AI telah berkembang dari tahap eksperimental ke tahap implementasi nyata yang menghasilkan nilai bisnis,” pungkasnya.

Agentic AI dan Fondasi Data

Pada kesempatan sama, Vice President Divisi AI dan Big Data Analytics PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Robby Indarto, menekankan, keberhasilan implementasi agentic AI, salah satunya bergantung pada kesiapan data.

Maka, sebelum mengembangkan AI, termasuk agentic AI, perbankan, termasuk BPD harus mempersiapkan datanya yang valid dan reliable, serta analytics-nya

“Di bank-bank besar seperti BNI, analytics itu ada dua jenis, yaitu data analytics atau business analytics dan data scienceData analytics berfokus pada apa yang sudah terjadi, sedangkan data science lebih maju lagi karena menggunakan data dan AI untuk membuat prediksi dan model cerdas, termasuk mengotomatisasi pengambilan keputusan,” paparnya.

Agentic AI memainkan peran penting dalam membangun organisasi menjadi lebih cerdas, lebih aman, lebih efisien, lebih personal, dan lebih otomatis.

Multipolar Technology meyakini transformasi digital BPD akan semakin berdampak apabila dijalankan dengan fondasi teknologi semacam itu, apalagi disertai tata kelola yang baik sekaligus kolaborasi yang tepat antara industri perbankan dan jaringan mitra lainnya.

“Agentic AI bisa menjadi akselerator transformasi BPD menuju organisasi yang lebih cerdas, aman, efisien, dan adaptif,” pungkasnya. (*) Ari Astriawan

Multipolar Technology Tawarkan Solusi Private Cloud Modern yang Cepat, Simpel, dan Otomatis

Pusing dengan pengelolaan data center perusahaan? Waktu tim TI perusahaan habis tersita untuk memikirkan pengelolaan data center yang ribet, kompleks, dan berbiaya tinggi? Itu berarti saatnya harus mengatur ulang arsitektur data center perusahaan menjadi lebih cepat, simpel, fleksibel, efisien, aman, dan otomatis.

Kombinasi dua solusi dari Dell Technologies, yakni Dell PowerStorage dan Dell Private Cloud, bisa jadi pilihan yang paling tepat untuk menjawab persoalan itu. Menurut Jeffry Tjiung Sendjaja, Division Head Server and Storage PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), ‘duet maut’ dua solusi ini mampu menjadi fondasi infrastruktur penyimpanan modern yang lebih sederhana dalam pengoperasiannya.

“Solusi ini menggabungkan penyimpanan all-flash storage generasi terbaru dengan disaggregated infrastructure yang menyederhanakan operasional sekaligus menekan biaya kepemilikan,” ungkapnya dalam seminar “Built a Private Cloud That Works for You” yang diselenggarakan oleh Multipolar Technology di Padeloom, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Sebagai platform all-flash storage, Dell PowerStore dirancang menggunakan pendekatan future-proof dengan kemampuan scale-up dan scale-out yang fleksibel. PowerStore mendukung arsitektur end-to-end NVMedual active/active nodes, dan desain modular, sehingga kapasitas serta performanya dapat disesuaikan tanpa harus mengganti sistem secara keseluruhan.

Dari sisi efisiensi, Dell PowerStore menawarkan jaminan pengurangan data 5:1 melalui kombinasi deduplikasi dan kompresi cerdas yang bekerja secara otomatis tanpa perlu konfigurasi kompleks. Dalam kondisi tertentu, rasio efisiensi bahkan bisa mencapai 20:1, membantu perusahaan menekan biaya penyimpanan sekaligus meningkatkan pemanfaatan kapasitas dengan cukup signifikan.

Dari sisi operasional, Dell PowerStore dilengkapi kemampuan self-optimizing dan dukungan Dell AIOps serta automasi end-to-end yang terintegrasi dengan ekosistem Dell. “Keunggulan lain terletak pada keamanan data. Dengan fitur multiparty authorization, solusi ini membuat setiap tindakan kritis dapat dikendalikan melalui persetujuan multi-pengguna demi mencegah perubahan yang tidak sah,” kata Jeffry.

Sementara itu, Dell Private Cloud dibangun di atas Dell Automation Platform untuk menghadirkan pengalaman private cloud yang konsisten, baik di lingkungan on-premises maupun berbasis Software-as-a-Service (SaaS). Solusi ini menyediakan portal terpusat untuk onboarding, orkestrasi, manajemen aset, hingga lifecycle management, sehingga operasional infrastruktur dapat dijalankan secara terstandar dan otomatis.

Adrian Kustiawan, Presales Server x86 Head Multipolar Technology, menjelaskan, berbeda dengan pendekatan hyperconverged tradisional, Dell Private Cloud mengusung disaggregated infrastructure yang memungkinkan skala komputasi, penyimpanan, dan jaringan dilakukan secara independen, sehingga lebih fleksibel, tanpa vendor lock-in, dan memastikan pengoptimalan sumber daya sesuai beban kerja (workload).

Didukung portofolio storage Dell PowerStore, Dell Private Cloud tidak memerlukan perangkat keras khusus. Infrastruktur penyimpanan dapat dibangun menggunakan server dan storage Dell yang sudah ada, baik pada skenario menggunakan fasilitas baru (greenfield) maupun mengembangkan fasilitas yang sudah ada (brownfield), sehingga mempercepat implementasi sekaligus melindungi investasi yang telah berjalan.

Dari sisi biaya, data internal Dell menyebut disaggregated infrastructure mampu menekan biaya hingga 32% lebih rendah dibanding infrastruktur hyperconverged berkat kebutuhan server yang lebih sedikit, lisensi perangkat lunak yang lebih efisien, serta tingkat utilisasi storage dan komputasi yang lebih tinggi. “Ini menjadikan Dell Private Cloud pilihan strategis untuk memodernisasi data center dan implementasi AI perusahaan,” ungkap Adrian.

Jadi, dengan mengombinasikan Dell PowerStore dan Dell Private Cloud, perusahaan dari industri apa pun akan menikmati solusi private cloud yang lebih simpel, fleksibel, efisien, aman, dan otomatis. Tim TI perusahaan tidak dipusingkan lagi dengan manajemen data center seperti sebelumnya yang ribet, kompleks, dan berbiaya tinggi. “Jika ingin mengimplementasikannya, tim ahli dari Multipolar Technology siap membantu,” pungkas Jeffry.

Multipolar Technology tawarkan solusi Private Cloud Modern yang cepat, simpel, dan otomatis

akarta (ANTARA) – Kombinasi dua solusi dari Dell Technologies, yakni Dell PowerStorage dan Dell Private Cloud, bisa jadi pilihan yang paling tepat untuk menjawab persoalan agar arsitektur data center perusahaan menjadi lebih cepat, simpel, fleksibel, efisien, aman, dan otomatis.

Menurut Jeffry Tjiung Sendjaja, Division Head Server and Storage PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), ‘duet maut’ dua solusi ini mampu menjadi fondasi infrastruktur penyimpanan modern yang lebih sederhana dalam pengoperasiannya.

“Solusi ini menggabungkan penyimpanan all-flash storage generasi terbaru dengan disaggregated infrastructure yang menyederhanakan operasional sekaligus menekan biaya kepemilikan,” ungkapnya dalam seminar “Built a Private Cloud That Works for You” yang diselenggarakan oleh Multipolar Technology di Padeloom, Jakarta, Kamis.

Sebagai platform all-flash storage, Dell PowerStore dirancang menggunakan pendekatan future-proof dengan kemampuan scale-up dan scale-out yang fleksibel.

PowerStore mendukung arsitektur end-to-end NVMe, dual active/active nodes, dan desain modular, sehingga kapasitas serta performanya dapat disesuaikan tanpa harus mengganti sistem secara keseluruhan.

Dari sisi efisiensi, Dell PowerStore menawarkan jaminan pengurangan data 5:1 melalui kombinasi deduplikasi dan kompresi cerdas yang bekerja secara otomatis tanpa perlu konfigurasi kompleks. Dalam kondisi tertentu, rasio efisiensi bahkan bisa mencapai 20:1, membantu perusahaan menekan biaya penyimpanan sekaligus meningkatkan pemanfaatan kapasitas dengan cukup signifikan.

Dari sisi operasional, Dell PowerStore dilengkapi kemampuan self-optimizing dan dukungan Dell AIOps serta automasi end-to-end yang terintegrasi dengan ekosistem Dell.

“Keunggulan lain terletak pada keamanan data. Dengan fitur multiparty authorization, solusi ini membuat setiap tindakan kritis dapat dikendalikan melalui persetujuan multi-pengguna demi mencegah perubahan yang tidak sah,” kata Jeffry.

Sementara itu, Dell Private Cloud dibangun di atas Dell Automation Platform untuk menghadirkan pengalaman private cloud yang konsisten, baik di lingkungan on-premises maupun berbasis Software-as-a-Service (SaaS).

Solusi ini menyediakan portal terpusat untuk onboarding, orkestrasi, manajemen aset, hingga lifecycle management, sehingga operasional infrastruktur dapat dijalankan secara terstandar dan otomatis.

Adrian Kustiawan, Presales Server x86 Head Multipolar Technology, menjelaskan, berbeda dengan pendekatan hyperconverged tradisional, Dell Private Cloud mengusung disaggregated infrastructure yang memungkinkan skala komputasi, penyimpanan, dan jaringan dilakukan secara independen, sehingga lebih fleksibel, tanpa vendor lock-in, dan memastikan pengoptimalan sumber daya sesuai beban kerja (workload).

Didukung portofolio storage Dell PowerStore, Dell Private Cloud tidak memerlukan perangkat keras khusus. Infrastruktur penyimpanan dapat dibangun menggunakan server dan storage Dell yang sudah ada, baik pada skenario menggunakan fasilitas baru (greenfield) maupun mengembangkan fasilitas yang sudah ada (brownfield), sehingga mempercepat implementasi sekaligus melindungi investasi yang telah berjalan.

Dari sisi biaya, data internal Dell menyebut disaggregated infrastructure mampu menekan biaya hingga 32 persen lebih rendah dibanding infrastruktur hyperconverged berkat kebutuhan server yang lebih sedikit, lisensi perangkat lunak yang lebih efisien, serta tingkat utilisasi storage dan komputasi yang lebih tinggi.

“Ini menjadikan Dell Private Cloud pilihan strategis untuk memodernisasi data center dan implementasi AI perusahaan,” ungkap Adrian.

Jadi, dengan mengombinasikan Dell PowerStore dan Dell Private Cloud, perusahaan dari industri apa pun akan menikmati solusi private cloud yang lebih simpel, fleksibel, efisien, aman, dan otomatis.

Tim TI perusahaan tidak dipusingkan lagi dengan manajemen data center seperti sebelumnya yang ribet, kompleks, dan berbiaya tinggi.

“Jika ingin mengimplementasikannya, tim ahli dari Multipolar Technology siap membantu,” pungkas.

MLPT Beberkan Strategi Membangun Private Cloud Modern yang Aman dan Efisien

Jakarta – Pengelolaan data center bisa jadi membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Ini tidak lepas dari semakin kompleksnya kebutuhan pengelolaan data di era digital seperti sekarang. Adopsi solusi teknologi menjadi cara mudah dan efisien dalam mengelola data center.

Hal itu diungkapkan Jeffry Tjiung Sendjaja, Division Head Server and Storage PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) dalam seminar “Built a Private Cloud That Works for You” yang diadakan MLPT di Jakarta beberapa waktu lalu.

Jeffry mengatakan, perpaduan dua solusi besutan Dell Technologies, yaitu Dell PowerStorage dan Dell Private Cloud, dapat menjadi alternatif tetap untuk mengatasi persoalan dalam pengelolaan data center. Kombinasi dua solusi ini mampu menjadi fondasi infrastruktur penyimpanan modern yang lebih sederhana dalam pengoperasiannya.

“Solusi ini menggabungkan penyimpanan all-flash storage generasi terbaru dengan disaggregated infrastructure yang menyederhanakan operasional sekaligus menekan biaya kepemilikan,” kata Jeffry dalam keterangan resmi yang diterima Asian Post, Kamis, 4 Februari 2026.

Dell PowerStore adalah platform all-flash storage yang dirancang dengan pendekatan future-proof, dan mendukung kemampuan scale-up dan scale-out yang fleksibel. Solusi ini mendukung arsitektur end-to-end NVMe, dual active/active nodes, dan desain modular.

Solusi ini juga diklaim lebih efisien karena menawarkan jaminan pengurangan data 5:1 lewat kombinasi deduplikasi dan kompresi cerdas yang bekerja secara otomatis. Di kondisi tertentu, rasio efisiensi bahkan bisa mencapai 20:1, sehingga akan membantu perusahaan menekan biaya penyimpanan sekaligus meningkatkan pemanfaatan kapasitas.

Sementara, dari sisi operasional, Dell PowerStore memiliki kemampuan self-optimizing dan dukungan Dell AIOps serta automasi end-to-end yang terintegrasi dengan ekosistem Dell.

“Keunggulan lain terletak pada keamanan data. Dengan fitur multiparty authorization, solusi ini membuat setiap tindakan kritis dapat dikendalikan melalui persetujuan multi-pengguna demi mencegah perubahan yang tidak sah,” lanjutnya.

Sedangkan Dell Private Cloud dibangun di atas Dell Automation Platform untuk menghadirkan pengalaman private cloud yang konsisten. Baik di lingkungan on-premises maupun berbasis Software-as-a-Service (SaaS). Solusi ini menyediakan portal terpusat untuk onboarding, orkestrasi, manajemen aset, hingga lifecycle management, sehingga operasional infrastruktur dapat dijalankan secara terstandar dan otomatis.

Menurut Adrian Kustiawan, Presales Server x86 Head Multipolar Technology, tidak seperti pendekatan hyperconverged tradisional, Dell Private Cloud mengusung disaggregated infrastructure yang memungkinkan skala komputasi, penyimpanan, dan jaringan dilakukan secara independen, sehingga lebih fleksibel, tanpa vendor lock-in, dan memastikan pengoptimalan sumber daya sesuai beban kerja (workload).

Dengan dukungan portofolio storage Dell PowerStore, Dell Private Cloud tidak memerlukan perangkat keras khusus. Solusi ini juga diklaim mampu menekan biaya hingga 32 persen lebih rendah ketimbang infrastruktur hyperconverged berkat kebutuhan server yang lebih sedikit, lisensi perangkat lunak yang lebih efisien, serta tingkat utilisasi storage dan komputasi yang lebih tinggi.

“Ini menjadikan Dell Private Cloud pilihan strategis untuk memodernisasi data center dan implementasi AI perusahaan,” tegas Adrian. AA