Agen AI Makin Otonom, Orkestrasi Jadi Tantangan Baru Perusahaan

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dari asisten digital menjadi agen AI yang mampu menjalankan tugas secara mandiri menghadirkan tantangan baru bagi perusahaan. Ketika otonomi AI meningkat, perusahaan perlu melakukan orkestrasi untuk memastikan berbagai model, aplikasi, data, dan sistem operasional dapat bekerja secara terintegrasi, aman, dan terkendali.

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Data & AI Forum 2026 bertema “Orchestrating Intelligence at the Heart of the Enterprise” yang diselenggarakan PT Multipolar Technology Tbk. di Bali pada 7–8 Oktober 2026.

Director Account Management FSI and Commercial, Multipolar Technology, Herryyanto, menekankan pentingnya orkestrasi AI sebagai bagian dari sistem inti perusahaan.

“Pendekatan ini menempatkan AI bukan sekadar sebagai model atau aplikasi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai sebuah sistem terpadu yang melibatkan data, platform, infrastruktur, keamanan, dan operasional bisnis,” katanya.

Kebutuhan orkestrasi semakin relevan seiring berkembangnya Frontier AI, yakni kategori model AI dengan kapabilitas paling maju pada suatu waktu.

Kemampuan model AI ini mencakup penalaran, pemrograman, perencanaan, hingga penggunaan perangkat untuk menyelesaikan tugas.

Perkembangan tersebut juga memperluas peran AI dalam proses bisnis. Dari semula berfungsi sebagai assistant yang memberikan informasi, AI berkembang menjadi copilot yang membantu pekerjaan, agen AI yang menggunakan perangkat untuk menyelesaikan tugas, hingga sistem multi-agent yang mengoordinasikan berbagai peran dan alur kerja (workflow).

Menurut Herryyanto, semakin mandiri AI bekerja, semakin penting pula tata kelola, pemantauan, dan pengawasan manusia dalam penerapannya.

Orkestrasi AI dalam Sistem Enterprise

Senior Vice President Multipolar Technology, Achmad Fakhrudin, menjelaskan bahwa Frontier AI tidak merujuk pada merek atau model tertentu, melainkan kategori kapabilitas AI paling maju yang terus berkembang.

Perkembangan kemampuan tersebut membuka peluang penerapan AI di berbagai fungsi perusahaan, mulai dari layanan pelanggan, pekerjaan berbasis pengetahuan, pengembangan perangkat lunak, dan analisis data hingga operasional serta dukungan pengambilan keputusan.

Namun, penerapan AI yang semakin luas juga menuntut perusahaan mengelola berbagai komponen teknologi sebagai satu kesatuan sistem.

Dalam pendekatan Multipolar Technology, orkestrasi AI mencakup integrasi data, AI agent, aplikasi, infrastruktur, dan otomasi.

Sedangkan keamanan, tata kelola, kepatuhan, serta ketahanan sistem menjadi bagian dari rancangan implementasi sejak awal.

“Dengan begitu, AI dapat berkembang sebagai sistem perusahaan yang terkelola, bukan hanya kumpulan teknologi yang terpisah-pisah,” ujar Fakhrudin.

Multipolar Technology menggunakan pendekatan AI 360 derajat yang mencakup aplikasi bisnis dan agen, lapisan aplikasi dan orkestrasi, model dan framework, platform data dan AI, platform operasional, serta infrastruktur komputasi, penyimpanan, jaringan, cloud, dan on-premises.

Aspek keamanan, privasi, kepatuhan, keandalan, dan ketahanan sistem diterapkan pada seluruh lapisan tersebut.

Salah satu pendekatan yang dibahas adalah AI Data Command Graph, yang ditujukan untuk membantu perusahaan memahami keterkaitan antara lapisan dalam sistem AI enterprise.

Melalui pendekatan tersebut, perusahaan dapat merancang kontrol, kemampuan observabilitas, keamanan, dan ketahanan sistem sejak tahap awal implementasi, bukan menambahkannya setelah solusi AI beroperasi.

Multipolar Technology juga mengemukakan penggunaan AI Framework sebagai fondasi pengembangan use case AI secara bertahap, dari implementasi awal hingga penerapan dalam skala yang lebih luas.

Menyeimbangkan Kapabilitas AI dan Biaya Operasional

Selain integrasi dan tata kelola, pemilihan kapabilitas AI yang sesuai dengan kebutuhan bisnis menjadi pertimbangan dalam implementasi teknologi tersebut.

Fakhrudin mengingatkan bahwa peningkatan kemampuan AI perlu diimbangi dengan pengelolaan biaya dan kebutuhan operasional perusahaan.

“Namun, mencapai tahap itu bukan berarti tanpa tantangan. Tantangan yang harus dihadapi perusahaan berikutnya adalah menyeimbangkan antara kapabilitas AI dengan biaya dan kebutuhan operasional. Ini yang tak kalah penting,” katanya.

Oleh karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan kapabilitas AI yang paling sesuai untuk menyelesaikan kebutuhan bisnis secara aman dan efisien, bukan semata-mata memilih teknologi dengan kemampuan tercanggih.

Kebutuhan pengelolaan AI tersebut juga tercermin dalam proyeksi pertumbuhan pasar orkestrasi AI global. Berdasarkan data MarketsandMarkets yang dikutip Multipolar Technology, nilai pasar orkestrasi AI diperkirakan meningkat dari US$11,02 miliar pada 2025 menjadi US$30,23 miliar pada 2030.

Dengan berkembangnya agen AI dan sistem multi-agent, orkestrasi menjadi bagian dari pendekatan Multipolar Technology untuk mengintegrasikan kapabilitas AI dengan data, aplikasi, infrastruktur, dan proses bisnis perusahaan, sekaligus menjaga keamanan, tata kelola, serta efisiensi operasional.