Adopsi AI Agent Makin Masif, Ini 3 Tantangan yang Harus Diperhatikan Perusahaan

Jakarta – Tren adopsi AI agent semakin masif, termasuk di Indonesia. Semakin banyak perusahaan yang mengembangkan AI agent untuk mengotomatisasi pekerjaan, mempercepat pengambilan keputusan, dan meningkatkan produktivitas.

Menurut IDC, perusahaan riset pasar global, pada 2028 diprediksi akan ada sekitar 1,3 miliar AI agent secara global. Pada 2030, IDC menyebut 45 perusahaan perusahaan di antaranya akan mengorkestrasi AI agent dalam skala yang cukup besar.

Adopsi AI agent memang menjadi nilai tambah. Persoalannya, banyak perusahaan yang mengembangkan AI agent, tapi tidak menghasilkan nilai bisnis. Kondisi ini bisa jadi disebabkan karena agent dibangun menggunakan berbagai tools, bekerja dengan data yang terpisah (data silo), masih memiliki celah keamanan, dan banyak yang berhenti pada tahap awal.

Director Business Development & Innovation PT Multipolar Technology Tbk Halim Hartono Perdana mengatakan, tantangan bagi perusahaan sekarang bukan lagi soal memiliki AI agent, tapi bagaimana membuat berbagai agen yang ada saling terhubung dan menjadi bagian dari proses bisnis.

Perusahaan harus memastikan agen-agen AI yang mereka kembangkan memahami konteks bisnis, terhubung dengan data dan alur kerja (workflow) yang tepat, serta menghasilkan output yang mendukung tujuan bisnis.

“Di sinilah transformasi AI mulai bergeser dari sekadar penggunaan teknologi menjadi perubahan cara perusahaan bekerja,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Tiga Tantangan Pengembangan AI Agent

Multipolar Technology menyebut, setidaknya ada tiga tantangan utama yang muncul saat perusahaan mulai memperluas penggunaan AI agent. Pertama, konteks bisnis. Agen membutuhkan akses dan pemahaman terhadap dokumen, percakapan, alur kerja, dan berbagai informasi agar dapat menghasilkan respons dan tindakan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Kedua, aspek security dan governance. Semakin banyak agent digunakan, semakin besar pula kebutuhan perusahaan akan visibility, control, dan safeguards, serta mekanisme tata kelola yang konsisten.

Ketiga, delivery ke lingkungan produksi. AI memang bisa mempercepat pembuatan code, tapi belum tentu mempercepat delivery, karena proses review, testing, governance, dan validasi keamanannya tetap harus dilakukan.

Halim menjelaskan, saat ini Microsoft menawarkan satu sistem untuk membangun AI agent yang kompatibel bagi perusahaan. Sistem itu mencakup enam fungsi yang saling terhubung, seperti Build menggunakan GitHub dan Copilot Studio, Contextualize melalui Microsoft IQ, Run dan Optimize menggunakan Microsoft Foundry, Govern melalui Agent 365, serta Surface melalui Microsoft Teams dan Microsoft 365.

Pendekatan terintegrasi membuat agent tidak menjadi tools yang berdiri sendiri, tapi dibangun, dijalankan, dikelola, dan digunakan dalam satu ekosistem. Dengan begitu, perusahaan bisa membangun agent dengan lebih mudah, memberikan konteks bisnis yang tepat, menerapkan governance dan security yang konsisten, serta membawa agent ke tempat karyawan bekerja sehari-hari.

“Dengan begitu, AI agent memiliki peluang lebih besar untuk bergerak dari prototipe menuju produksi dan memberikan dampak yang terukur,” lanjutnya.

Pendekatan satu sistem terhubung itu diklaim memberikan tiga hasil utama bagi perusahaan. Pertama, Build at the Speed of AI, yakni memberikan kemampuan kepada setiap departemen bisnis untuk mengubah ide menjadi agent yang siap pakai.

Kedua, Agents that Deliver Business Impact, memastikan agent memiliki konteks bisnis, dapat dioptimalkan dan diskalakan untuk menghasilkan outcome yang optimal.

Ketiga, Secure Every Agent from Code to Runtime, memastikan setiap agent dapat diobservasi, diatur, dan diamankan sejak tahap pengembangan hingga berjalan di lini produksi. (*) Ari Astriawan