Agentic AI Dorong Perusahaan Lakukan Otomatisasi Alur Kerja yang Kompleks

IndonesiaInside.id  – Tak dimungkiri teknologi telah berkembang begitu cepat. Sebelumnya, teknologi tersebut digerakkan oleh Robotic Process Automation (RPA), Traditional AI, dan Generative AI (GenAI). Kini, proses bisnis didorong oleh kecanggihan Agentic AI, yang mampu mengeksekusi pekerjaan secara otonom.

Dengan Agentic AI, perusahaan dapat melakukan otomatisasi alur kerja yang kompleks. Mengoptimasi kampanye pemasaran dan mengelola interaksi pelanggan. Kemudian meningkatkan akurasi dalam berbagai diagnostik, dan memaksimalkan efisiensi.

Perusahaan juga mampu mendongkrak pendapatan, mendeteksi ancaman siber, dan mengambil keputusan bisnis lebih cepat. Semua itu dilakukan tanpa campur tangan manusia lagi.

Merujuk data Dimension Market Research, nilai pasar Agentic AI global diyakini bakal melesat dari US$7,4 miliar pada 2025 menjadi US$171,2 miliar pada 2034.

Director Enterprise Application Services Business PT Multipolar Technology Tbk Jip Ivan Sutanto mengatakan bahwa agar bisa menjalankan teknologi Agentic AI dengan optimal, perusahaan mesti menggunakan solusi-solusi andal.

“Setidaknya ada solusi yang memungkinkan perusahaan mengimplementasikan Agentic AI secara tepat, yakni Microsoft 365 Copilot,” ujarnya dalam acara “Data & AI Forum 2025: Unlock Unprecedented Business Transformation with Agentic AI Advantage” belum lama ini.

Ia memaparkan, Microsoft 365 Copilot merupakan asisten AI yang terintegrasi dengan aplikasi Microsoft 365 seperti Word, Excel, dan Teams. Solusi ini membantu meningkatkan produktivitas dengan memberikan saran dan bantuan secara real-time berdasarkan konteks pekerjaan. Copilot menggunakan teknologi Large Language Model (LLM) dari OpenAI yang terhubung dengan data pengguna sehingga rekomendasinya sangat relevan.

Microsoft 365 Copilot membantu merangkum e-mail panjang, menyusun draft dokumen, atau menganalisis data Excel hanya dengan instruksi sederhana. Solusi ini juga mampu menganalisis tren data, merumuskan skenario, dan menyarankan aksi berdasarkan informasi yang sudah ada.

“Hal ini membuat proses bisnis perusahaan dapat berjalan lebih cepat, lebih akurat, lebih produktif, dan lebih efisien,” ujar Jip Ivan.

Ada juga Red Hat OpenShift, yaitu solusi aplikasi berbasis kontainer yang berperan meningkatkan efisiensi operasional. Yohan Gunawan, Director Hybrid Infrastructure Services Business Multipolar Technology, menjelaskan, seiring semakin banyaknya perusahaan mengadopsi arsitektur cloud-native, Red Hat OpenShift hadir untuk memfasilitasi transisi ke arsitektur microservices, sehingga inovasi aplikasi bisnis di era Agentic AI semakin lincah dan mulus sesuai tuntutan pasar tanpa mengabaikan dari sisi keamanan siber.

Sementara Veeam Kasten K10 adalah solusi backup data khusus untuk aplikasi berbasis kubernetes (kontainer). “Solusi ini mampu melakukan backup dan restore data yang cepat, andal, dan konsisten, serta mendukung migrasi alur kerja AI dari lingkungan on-premise ke cloud atau sebaliknya,” katanya.

Veeam Kasten K10 memastikan kepatuhan terhadap UU PDP dengan menjamin keandalan (reliability) data melalui proses backup dan restore yang konsisten, aman, dan terdokumentasi dengan baik. Solusi ini cocok bagi perusahaan yang mengelola alur kerja AI dan data analytics-nya di kubernetes dengan tim DevOps yang menginginkan otomatisasi penuh terhadap data.

Bagi perusahaan, baik yang bergerak di bidang perbankan, asuransi, telekomunikasi, energi, maupun yang lainnya, mengintegrasikan ketiga solusi, antara lain Microsoft 365 Copilot, Red Hat OpenShift, dan Veeam Kasten K10, bisa menjadi jalan terbaik untuk membuat proses bisnis semakin lincah, produktif, inovatif, dan aman. (L. Yusniar)