JawaPos.com – Bank Pembangunan Daerah (BPD) terus berinovasi dengan meningkatkan daya saing di tengah percepatan transformasi industri keuangan yang berkembang sangat cepat. Data Asosiasi Bank Daerah (Asbanda) mencatat terdapat 27 BPD di Indonesia yang terdiri dari 24 BPD konvensional dan 3 BPD syariah, seluruhnya memegang peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
Sebagai institusi yang berkontribusi langsung pada pembangunan daerah, BPD–layaknya bank nasional–menghadapi tantangan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat keamanan siber, menjaga kepatuhan regulasi, sekaligus menghadirkan layanan digital yang relevan dan kompetitif.
Salah satu cara yang dilakukan dengan memanfaatkan Agentic AI yang dibangun pada fondasi platform AI yang aman, terstandarisasi, dan dapat dioperasikan secara on‑premise untuk memenuhi kebutuhan regulasi dan pengelolaan data sensitif perbankan. Platform seperti inilah yang memungkinkan BPD mengadopsi Agentic AI dengan lebih efektif.
Dalam acara BPD Forum ke-20 bertema “Securing Financial Transformation: Navigating Change, Driving Impact with Agentic AI” kolaborasi PT Multipolar Technology Tbk dan Asbanda di Bali, Senior Vice President Multipolar Technology Achmad Fakhrudin menegaskan bahwa Agentic AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan enabler strategis bagi transformasi BPD.
“Pemanfaatan Agentic AI menjadi kunci untuk membuka nilai bisnis baru sekaligus memperkuat daya saing perbankan daerah di tengah percepatan inovasi teknologi serta tekanan kompetisi dari fintech, neobank, dan channel bisnis lainnya,” ungkap Achmad di hadapan perwakilan BPD dari seluruh Indonesia. “Ini bukan lagi tentang proyeksi, ini tentang mewujudkan manfaat,” tambahnya.
Implementasi awal Agentic AI dapat difokuskan pada empat use case utama, antara lain AI Ops untuk optimalisasi operasional, AI-Driven Security untuk meningkatkan perlindungan keamanan siber, AI Testing untuk mempercepat siklus pengujian sistem, dan AI Transaction Network Analysis untuk analisis pola transaksi dan deteksi risiko. Keempatnya memberikan dampak optimal bila dijalankan di atas platform AI yang menyediakan orkestrasi model, automasi pipeline, monitoring, serta tata kelola AI yang jelas.
“Agentic AI bisa menjadi akselerator transformasi BPD menuju organisasi yang lebih cerdas, aman, efisien, dan adaptif. Dengan pendekatan yang terukur serta fondasi teknologi yang kuat, Multipolar Technology berkomitmen menjadi mitra strategis BPD dalam menghadirkan inovasi digital yang berdampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan layanan kepada masyarakat,” pungkas Achmad
Iconomics – Meski berfokus pada layanan perbankan di daerah, Bank Pembangunan Daerah (BPD) tetap dituntut untuk meningkatkan daya saing di tengah percepatan transformasi industri keuangan yang berkembang sangat cepat.
Berdasarkan data Asosiasi Bank Daerah (Asbanda), saat ini terdapat 27 BPD di Indonesia yang terdiri dari 24 BPD konvensional dan 3 BPD syariah, seluruhnya memegang peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
Sebagai institusi yang berkontribusi langsung pada pembangunan daerah, BPD–layaknya bank nasional–menghadapi tantangan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat keamanan siber, menjaga kepatuhan regulasi, sekaligus menghadirkan layanan digital yang relevan dan kompetitif.
Salah satu cara untuk itu adalah dengan memanfaatkan Agentic AI yang dibangun pada fondasi platform AI yang aman, terstandarisasi, dan dapat dioperasikan secara on‑premise untuk memenuhi kebutuhan regulasi dan pengelolaan data sensitif perbankan. Platform seperti inilah yang memungkinkan BPD mengadopsi Agentic AI dengan lebih efektif.
Dalam acara BPD Forum ke-20 bertema “Securing Financial Transformation: Navigating Change, Driving Impact with Agentic AI” yang diselenggarakan oleh PT Multipolar Technology Tbk dan Asbanda di Bali pada 11-13 Februari 2026, Senior Vice President Multipolar Technology Achmad Fakhrudin menegaskan bahwa Agentic AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan enabler strategis bagi transformasi BPD.
“Pemanfaatan Agentic AI menjadi kunci untuk membuka nilai bisnis baru sekaligus memperkuat daya saing perbankan daerah di tengah percepatan inovasi teknologi serta tekanan kompetisi dari fintech, neobank, dan channel bisnis lainnya,” ungkap Achmad di hadapan perwakilan BPD dari seluruh Indonesia. “Ini bukan lagi tentang proyeksi, ini tentang mewujudkan manfaat,” tambahnya.
Implementasi awal Agentic AI dapat difokuskan pada empat use case utama, antara lain AI Ops untuk optimalisasi operasional, AI-Driven Security untuk meningkatkan perlindungan keamanan siber, AI Testing untuk mempercepat siklus pengujian sistem, dan AI Transaction Network Analysis untuk analisis pola transaksi dan deteksi risiko. Keempatnya memberikan dampak optimal bila dijalankan di atas platform AI yang menyediakan orkestrasi model, automasi pipeline, monitoring, serta tata kelola AI yang jelas.
Sebagai system integrator yang telah berpengalaman mendampingi berbagai institusi keuangan terkemuka di Indonesia, Multipolar Technology juga memastikan integrasi Agentic AI dapat berjalan harmonis dengan core banking,digital channel, maupun sistem pendukung lainnya yang telah dimiliki BPD. Kini, lanjut Achmad, adopsi Agentic AI telah berkembang dari tahap eksperimental ke tahap implementasi nyata yang menghasilkan nilai bisnis.
Vice President Divisi AI dan Big Data Analytics PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Robby Indarto dalam sesi Expert Sharing pada kesempatan yang sama menekankan bahwa keberhasilan implementasi Agentic AI, salah satunya bergantung pada kesiapan data. Menurutnya, sebelum mengembangkan AI, termasuk Agentic AI, bank—tak terkecuali BPD—harus mempersiapkan datanya yang valid dan reliable, juga analytics-nya
“Di bank-bank besar seperti BNI, analytics itu ada dua jenis, yaitu data analytics atau business analytics dan data science. Data analytics berfokus pada apa yang sudah terjadi, sedangkan data science lebih maju lagi karena menggunakan data dan AI untuk membuat prediksi dan model cerdas, termasuk mengotomatisasi pengambilan keputusan,” jelasnya.
Jadi, AI, lebih spesifik lagi Agentic AI, berperan penting dalam membangun organisasi menjadi lebih cerdas, lebih aman, lebih efisien, lebih personal, dan lebih otomatis. Multipolar Technology meyakini transformasi digital BPD akan semakin berdampak apabila dijalankan dengan fondasi teknologi semacam itu, apalagi disertai tata kelola yang baik sekaligus kolaborasi yang tepat antara industri perbankan dan jaringan mitra lainnya.
“Agentic AI bisa menjadi akselerator transformasi BPD menuju organisasi yang lebih cerdas, aman, efisien, dan adaptif. Dengan pendekatan yang terukur serta fondasi teknologi yang kuat, Multipolar Technology berkomitmen menjadi mitra strategis BPD dalam menghadirkan inovasi digital yang berdampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan layanan kepada masyarakat,” pungkas Achmad.
Jakarta – Transformasi digital menjadi salah satu tantangan yang dihadapi industri Bank Pembangunan Daerah (BPD). Bank daerah dituntut untuk meningkatkan daya saing sekaligus menjadi katalisator pembangunan daerah.
Bankir-bankir BPD juga dituntut untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat keamanan siber serta menjaga kepatuhan regulasi. Di saat yang sama, harus berinovasi menghadirkan layanan digital yang relevan dan kompetitif.
Menjawab tantangan tersebut, industri BPD didorong untuk mengadosi agentic AI secara efektif. Agentic AI yang dibangun dengan fondasi platform AI yang aman, terstandarisasi, dan bis dioperasikan secara on premise, bisa memenuhi kebutuhan regulasi dan pengelolaan data sensitif perbankan.
Hal itu mengemuka dalam BPD Forum ke-20 “Securing Financial Transformation: Navigating Change, Driving Impact with Agentic AI” yang digelar PT Multipolar Technology Tbk dan Asosiasi Bank Daerah (Asbanda) di Bali beberapa waktu lalu.
“Pemanfaatan Agentic AI menjadi kunci untuk membuka nilai bisnis baru sekaligus memperkuat daya saing perbankan daerah di tengah percepatan inovasi teknologi serta tekanan kompetisi dari fintech, neobank, dan channel bisnis lainnya,” jelas Senior Vice President Multipolar Technology Achmad Fakhrudin, dalam keterangan resmi, Sabtu, 28 Februari 2026.
Ia menegaskan, agentic AI bukan hanya tren teknologi, tapi bisa menjadi enabler strategis bagi transformasi BPD.
Fondasi Implementasi Agentic AI
Implementasi awal agentic AI dapat difokuskan pada empat use case utama, antara lain AI Ops untuk optimalisasi operasional, AI-Driven Security untuk meningkatkan perlindungan keamanan siber, AI Testing untuk mempercepat siklus pengujian sistem, dan AI Transaction Network Analysis untuk analisis pola transaksi dan deteksi risiko.
Keempatnya akan membawa manfaat optimal jika di atas platform AI yang menyediakan orkestrasi model, automasi pipeline, monitoring, serta tata kelola AI yang jelas.
Multipolar Technology menekankan bahwa integrasi agentic AI dapat berjalan harmonis dengan core banking, digital channel, maupun sistem pendukung lainnya yang telah dimiliki BPD.
“Adopsi Agentic AI telah berkembang dari tahap eksperimental ke tahap implementasi nyata yang menghasilkan nilai bisnis,” pungkasnya.
Agentic AI dan Fondasi Data
Pada kesempatan sama, Vice President Divisi AI dan Big Data Analytics PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Robby Indarto, menekankan, keberhasilan implementasi agentic AI, salah satunya bergantung pada kesiapan data.
Maka, sebelum mengembangkan AI, termasuk agentic AI, perbankan, termasuk BPD harus mempersiapkan datanya yang valid dan reliable, serta analytics-nya
“Di bank-bank besar seperti BNI, analytics itu ada dua jenis, yaitu data analytics atau business analytics dan data science. Data analytics berfokus pada apa yang sudah terjadi, sedangkan data science lebih maju lagi karena menggunakan data dan AI untuk membuat prediksi dan model cerdas, termasuk mengotomatisasi pengambilan keputusan,” paparnya.
Agentic AI memainkan peran penting dalam membangun organisasi menjadi lebih cerdas, lebih aman, lebih efisien, lebih personal, dan lebih otomatis.
Multipolar Technology meyakini transformasi digital BPD akan semakin berdampak apabila dijalankan dengan fondasi teknologi semacam itu, apalagi disertai tata kelola yang baik sekaligus kolaborasi yang tepat antara industri perbankan dan jaringan mitra lainnya.
“Agentic AI bisa menjadi akselerator transformasi BPD menuju organisasi yang lebih cerdas, aman, efisien, dan adaptif,” pungkasnya. (*) Ari Astriawan
Pusing dengan pengelolaan data center perusahaan? Waktu tim TI perusahaan habis tersita untuk memikirkan pengelolaan data center yang ribet, kompleks, dan berbiaya tinggi? Itu berarti saatnya harus mengatur ulang arsitektur data center perusahaan menjadi lebih cepat, simpel, fleksibel, efisien, aman, dan otomatis.
Kombinasi dua solusi dari Dell Technologies, yakni Dell PowerStorage dan Dell Private Cloud, bisa jadi pilihan yang paling tepat untuk menjawab persoalan itu. Menurut Jeffry Tjiung Sendjaja, Division Head Server and Storage PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), ‘duet maut’ dua solusi ini mampu menjadi fondasi infrastruktur penyimpanan modern yang lebih sederhana dalam pengoperasiannya.
“Solusi ini menggabungkan penyimpanan all-flash storage generasi terbaru dengan disaggregated infrastructure yang menyederhanakan operasional sekaligus menekan biaya kepemilikan,” ungkapnya dalam seminar “Built a Private Cloud That Works for You” yang diselenggarakan oleh Multipolar Technology di Padeloom, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Sebagai platform all-flash storage, Dell PowerStore dirancang menggunakan pendekatan future-proof dengan kemampuan scale-up dan scale-out yang fleksibel. PowerStore mendukung arsitektur end-to-end NVMe, dualactive/active nodes, dan desain modular, sehingga kapasitas serta performanya dapat disesuaikan tanpa harus mengganti sistem secara keseluruhan.
Dari sisi efisiensi, Dell PowerStore menawarkan jaminan pengurangan data 5:1 melalui kombinasi deduplikasi dan kompresi cerdas yang bekerja secara otomatis tanpa perlu konfigurasi kompleks. Dalam kondisi tertentu, rasio efisiensi bahkan bisa mencapai 20:1, membantu perusahaan menekan biaya penyimpanan sekaligus meningkatkan pemanfaatan kapasitas dengan cukup signifikan.
Dari sisi operasional, Dell PowerStore dilengkapi kemampuan self-optimizing dan dukungan Dell AIOps serta automasi end-to-end yang terintegrasi dengan ekosistem Dell. “Keunggulan lain terletak pada keamanan data. Dengan fitur multiparty authorization, solusi ini membuat setiap tindakan kritis dapat dikendalikan melalui persetujuan multi-pengguna demi mencegah perubahan yang tidak sah,” kata Jeffry.
Sementara itu, Dell Private Cloud dibangun di atas Dell Automation Platform untuk menghadirkan pengalaman private cloud yang konsisten, baik di lingkungan on-premises maupun berbasis Software-as-a-Service (SaaS). Solusi ini menyediakan portal terpusat untuk onboarding, orkestrasi, manajemen aset, hingga lifecycle management, sehingga operasional infrastruktur dapat dijalankan secara terstandar dan otomatis.
Adrian Kustiawan, Presales Server x86 Head Multipolar Technology, menjelaskan, berbeda dengan pendekatan hyperconverged tradisional, Dell Private Cloud mengusung disaggregated infrastructure yang memungkinkan skala komputasi, penyimpanan, dan jaringan dilakukan secara independen, sehingga lebih fleksibel, tanpa vendor lock-in, dan memastikan pengoptimalan sumber daya sesuai beban kerja (workload).
Didukung portofolio storage Dell PowerStore, Dell Private Cloud tidak memerlukan perangkat keras khusus. Infrastruktur penyimpanan dapat dibangun menggunakan server dan storage Dell yang sudah ada, baik pada skenario menggunakan fasilitas baru (greenfield) maupun mengembangkan fasilitas yang sudah ada (brownfield), sehingga mempercepat implementasi sekaligus melindungi investasi yang telah berjalan.
Dari sisi biaya, data internal Dell menyebut disaggregated infrastructure mampu menekan biaya hingga 32% lebih rendah dibanding infrastruktur hyperconverged berkat kebutuhan server yang lebih sedikit, lisensi perangkat lunak yang lebih efisien, serta tingkat utilisasi storage dan komputasi yang lebih tinggi. “Ini menjadikan Dell Private Cloud pilihan strategis untuk memodernisasi data center dan implementasi AI perusahaan,” ungkap Adrian.
Jadi, dengan mengombinasikan Dell PowerStore dan Dell Private Cloud, perusahaan dari industri apa pun akan menikmati solusi private cloud yang lebih simpel, fleksibel, efisien, aman, dan otomatis. Tim TI perusahaan tidak dipusingkan lagi dengan manajemen data center seperti sebelumnya yang ribet, kompleks, dan berbiaya tinggi. “Jika ingin mengimplementasikannya, tim ahli dari Multipolar Technology siap membantu,” pungkas Jeffry.
akarta (ANTARA) – Kombinasi dua solusi dari Dell Technologies, yakni Dell PowerStorage dan Dell Private Cloud, bisa jadi pilihan yang paling tepat untuk menjawab persoalan agar arsitektur data center perusahaan menjadi lebih cepat, simpel, fleksibel, efisien, aman, dan otomatis.
Menurut Jeffry Tjiung Sendjaja, Division Head Server and Storage PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), ‘duet maut’ dua solusi ini mampu menjadi fondasi infrastruktur penyimpanan modern yang lebih sederhana dalam pengoperasiannya.
“Solusi ini menggabungkan penyimpanan all-flash storage generasi terbaru dengan disaggregated infrastructure yang menyederhanakan operasional sekaligus menekan biaya kepemilikan,” ungkapnya dalam seminar “Built a Private Cloud That Works for You” yang diselenggarakan oleh Multipolar Technology di Padeloom, Jakarta, Kamis.
Sebagai platform all-flash storage, Dell PowerStore dirancang menggunakan pendekatan future-proof dengan kemampuan scale-up dan scale-out yang fleksibel.
PowerStore mendukung arsitektur end-to-end NVMe, dualactive/active nodes, dan desain modular, sehingga kapasitas serta performanya dapat disesuaikan tanpa harus mengganti sistem secara keseluruhan.
Dari sisi efisiensi, Dell PowerStore menawarkan jaminan pengurangan data 5:1 melalui kombinasi deduplikasi dan kompresi cerdas yang bekerja secara otomatis tanpa perlu konfigurasi kompleks. Dalam kondisi tertentu, rasio efisiensi bahkan bisa mencapai 20:1, membantu perusahaan menekan biaya penyimpanan sekaligus meningkatkan pemanfaatan kapasitas dengan cukup signifikan.
Dari sisi operasional, Dell PowerStore dilengkapi kemampuan self-optimizing dan dukungan Dell AIOps serta automasi end-to-end yang terintegrasi dengan ekosistem Dell.
“Keunggulan lain terletak pada keamanan data. Dengan fitur multiparty authorization, solusi ini membuat setiap tindakan kritis dapat dikendalikan melalui persetujuan multi-pengguna demi mencegah perubahan yang tidak sah,” kata Jeffry.
Sementara itu, Dell Private Cloud dibangun di atas Dell Automation Platform untuk menghadirkan pengalaman private cloud yang konsisten, baik di lingkungan on-premises maupun berbasis Software-as-a-Service (SaaS).
Solusi ini menyediakan portal terpusat untuk onboarding, orkestrasi, manajemen aset, hingga lifecycle management, sehingga operasional infrastruktur dapat dijalankan secara terstandar dan otomatis.
Adrian Kustiawan, Presales Server x86 Head Multipolar Technology, menjelaskan, berbeda dengan pendekatan hyperconverged tradisional, Dell Private Cloud mengusung disaggregated infrastructure yang memungkinkan skala komputasi, penyimpanan, dan jaringan dilakukan secara independen, sehingga lebih fleksibel, tanpa vendor lock-in, dan memastikan pengoptimalan sumber daya sesuai beban kerja (workload).
Didukung portofolio storage Dell PowerStore, Dell Private Cloud tidak memerlukan perangkat keras khusus. Infrastruktur penyimpanan dapat dibangun menggunakan server dan storage Dell yang sudah ada, baik pada skenario menggunakan fasilitas baru (greenfield) maupun mengembangkan fasilitas yang sudah ada (brownfield), sehingga mempercepat implementasi sekaligus melindungi investasi yang telah berjalan.
Dari sisi biaya, data internal Dell menyebut disaggregated infrastructure mampu menekan biaya hingga 32 persen lebih rendah dibanding infrastruktur hyperconverged berkat kebutuhan server yang lebih sedikit, lisensi perangkat lunak yang lebih efisien, serta tingkat utilisasi storage dan komputasi yang lebih tinggi.
“Ini menjadikan Dell Private Cloud pilihan strategis untuk memodernisasi data center dan implementasi AI perusahaan,” ungkap Adrian.
Jadi, dengan mengombinasikan Dell PowerStore dan Dell Private Cloud, perusahaan dari industri apa pun akan menikmati solusi private cloud yang lebih simpel, fleksibel, efisien, aman, dan otomatis.
Tim TI perusahaan tidak dipusingkan lagi dengan manajemen data center seperti sebelumnya yang ribet, kompleks, dan berbiaya tinggi.
“Jika ingin mengimplementasikannya, tim ahli dari Multipolar Technology siap membantu,” pungkas.
Jakarta – Pengelolaan data center bisa jadi membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Ini tidak lepas dari semakin kompleksnya kebutuhan pengelolaan data di era digital seperti sekarang. Adopsi solusi teknologi menjadi cara mudah dan efisien dalam mengelola data center.
Hal itu diungkapkan Jeffry Tjiung Sendjaja, Division Head Server and Storage PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) dalam seminar “Built a Private Cloud That Works for You” yang diadakan MLPT di Jakarta beberapa waktu lalu.
Jeffry mengatakan, perpaduan dua solusi besutan Dell Technologies, yaitu Dell PowerStorage dan Dell Private Cloud, dapat menjadi alternatif tetap untuk mengatasi persoalan dalam pengelolaan data center. Kombinasi dua solusi ini mampu menjadi fondasi infrastruktur penyimpanan modern yang lebih sederhana dalam pengoperasiannya.
“Solusi ini menggabungkan penyimpanan all-flash storage generasi terbaru dengan disaggregated infrastructure yang menyederhanakan operasional sekaligus menekan biaya kepemilikan,” kata Jeffry dalam keterangan resmi yang diterima Asian Post, Kamis, 4 Februari 2026.
Dell PowerStore adalah platform all-flash storage yang dirancang dengan pendekatan future-proof, dan mendukung kemampuan scale-up dan scale-out yang fleksibel. Solusi ini mendukung arsitektur end-to-end NVMe, dual active/active nodes, dan desain modular.
Solusi ini juga diklaim lebih efisien karena menawarkan jaminan pengurangan data 5:1 lewat kombinasi deduplikasi dan kompresi cerdas yang bekerja secara otomatis. Di kondisi tertentu, rasio efisiensi bahkan bisa mencapai 20:1, sehingga akan membantu perusahaan menekan biaya penyimpanan sekaligus meningkatkan pemanfaatan kapasitas.
Sementara, dari sisi operasional, Dell PowerStore memiliki kemampuan self-optimizing dan dukungan Dell AIOps serta automasi end-to-end yang terintegrasi dengan ekosistem Dell.
“Keunggulan lain terletak pada keamanan data. Dengan fitur multiparty authorization, solusi ini membuat setiap tindakan kritis dapat dikendalikan melalui persetujuan multi-pengguna demi mencegah perubahan yang tidak sah,” lanjutnya.
Sedangkan Dell Private Cloud dibangun di atas Dell Automation Platform untuk menghadirkan pengalaman private cloud yang konsisten. Baik di lingkungan on-premises maupun berbasis Software-as-a-Service (SaaS). Solusi ini menyediakan portal terpusat untuk onboarding, orkestrasi, manajemen aset, hingga lifecycle management, sehingga operasional infrastruktur dapat dijalankan secara terstandar dan otomatis.
Menurut Adrian Kustiawan, Presales Server x86 Head Multipolar Technology, tidak seperti pendekatan hyperconverged tradisional, Dell Private Cloud mengusung disaggregated infrastructure yang memungkinkan skala komputasi, penyimpanan, dan jaringan dilakukan secara independen, sehingga lebih fleksibel, tanpa vendor lock-in, dan memastikan pengoptimalan sumber daya sesuai beban kerja (workload).
Dengan dukungan portofolio storage Dell PowerStore, Dell Private Cloud tidak memerlukan perangkat keras khusus. Solusi ini juga diklaim mampu menekan biaya hingga 32 persen lebih rendah ketimbang infrastruktur hyperconverged berkat kebutuhan server yang lebih sedikit, lisensi perangkat lunak yang lebih efisien, serta tingkat utilisasi storage dan komputasi yang lebih tinggi.
“Ini menjadikan Dell Private Cloud pilihan strategis untuk memodernisasi data center dan implementasi AI perusahaan,” tegas Adrian. AA
Jakarta – Di era digital, pengelolaan data center menjadi krusial bagi perusahaan. Tanpa solusi tepat, pengelolaan data center bisa jadi sangat kompleks dan membutuhkan biaya besar.
Maka itu, perusahaan didorong untuk mengatur ulang arsitektur data center-nya agar menjadi lebih cepat, simpel, fleksibel, efisien, aman, dan otomatis.
Jeffry Tjiung Sendjaja, Division Head Server and Storage PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) menyarankan kombinasi dua solusi dari Dell Terchnologies, yakni Dell PowerStorage dan Dell Private Cloud untuk menjawab persoalan tersebut.
Dalam seminar “Built a Private Cloud That Works for You” yang digelar MLPT beberapa waktu lalu, Jeffry mengatakan, perpaduan dua solusi itu diklaim mampu menjadi fondasi infrastruktur penyimpanan modern yang lebih sederhana dalam pengoperasiannya.
“Solusi ini menggabungkan penyimpanan all-flash storage generasi terbaru dengan disaggregated infrastructure yang menyederhanakan operasional sekaligus menekan biaya kepemilikan,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Rabu, 4 Februari 2026.
Ia memaparkan, sebagai platform all-flash storage, Dell PowerStore dirancang menggunakan pendekatan future-proof dengan kemampuan scale-up dan scale-out yang fleksibel. PowerStore mendukung arsitektur end-to-end NVMe, dual active/active nodes, dan desain modular.
Solusi ini disebut lebih efisien karena menawarkan jaminan pengurangan data 5:1 lewat kombinasi deduplikasi dan kompresi secara otomatis tanpa perlu konfigurasi kompleks. Dalam kondisi tertentu, rasio efisiensi bahkan bisa mencapai 20:1. Ini akan membantu menekan biaya penyimpanan sekaligus meningkatkan pemanfaatan kapasitas.
Dari sisi operasional, Dell PowerStore didukung kemampuan self-optimizing dan dukungan Dell AIOps serta automasi end-to-end terintegrasi dengan ekosistem Dell.
“Keunggulan lain terletak pada keamanan data. Dengan fitur multiparty authorization, solusi ini membuat setiap tindakan kritis dapat dikendalikan melalui persetujuan multi-pengguna demi mencegah perubahan yang tidak sah,” lanjut Jeffry.
Adapun Dell Private Cloud dibangun di atas Dell Automation Platform untuk menghadirkan pengalaman private cloud yang konsisten, baik di lingkungan on-premises maupun berbasis Software-as-a-Service (SaaS).
Solusi ini menyediakan portal terpusat untuk onboarding, orkestrasi, manajemen aset, hingga lifecycle management. Jadi, operasional infrastruktur bisa dijalankan secara terstandar dan otomatis.
Adrian Kustiawan, Presales Server x86 Head Multipolar Technology, menambahkan, berbeda dengan pendekatan hyperconverged tradisional, Dell Private Cloud mengusung disaggregated infrastructure, yang membuat skala komputasi, penyimpanan, dan jaringan dilakukan secara independen, sehingga lebih fleksibel, tanpa vendor lock-in, dan memastikan pengoptimalan sumber daya sesuai beban kerja (workload).
Dari sisi biaya, data internal Dell menyebut disaggregated infrastructure mampu menekan biaya hingga 32 persen dibanding infrastruktur hyperconverged berkat kebutuhan server yang lebih sedikit, lisensi perangkat lunak yang lebih efisien, serta tingkat utilisasi storage dan komputasi yang lebih tinggi.
“Ini menjadikan Dell Private Cloud pilihan strategis untuk memodernisasi data center dan implementasi AI perusahaan,” pungkas Adrian. (*) Ari Astriawan
Pusing dengan pengelolaan data center perusahaan? Waktu Anda (tim teknologi informasi/TI perusahaan) habis tersita untuk memikirkan pengelolaan data center yang ribet, kompleks, dan berbiaya tinggi? Itu berarti saatnya Anda harus mengatur ulang arsitektur data center perusahaan menjadi lebih cepat, simpel, fleksibel, efisien, aman, dan otomatis.
Kombinasi dua solusi dari Dell Technologies, yakni Dell PowerStorage dan Dell Private Cloud, bisa jadi pilihan yang paling tepat untuk menjawab persoalan itu. Menurut Jeffry Tjiung Sendjaja, Division Head Server and Storage PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), ‘duet maut’ dua solusi ini mampu menjadi fondasi infrastruktur penyimpanan modern yang lebih sederhana dalam pengoperasiannya.
“Solusi ini menggabungkan penyimpanan all-flash storage generasi terbaru dengan disaggregated infrastructure yang menyederhanakan operasional sekaligus menekan biaya kepemilikan,” ungkapnya dalam seminar “Built a Private Cloud That Works for You” yang diselenggarakan oleh Multipolar Technology di Padeloom, Jakarta, Kamis (22/1).
Sebagai platform all-flash storage, Dell PowerStore dirancang menggunakan pendekatan future-proof dengan kemampuan scale-up dan scale-out yang fleksibel. PowerStore mendukung arsitektur end-to-end NVMe, dual active/active nodes, dan desain modular, sehingga kapasitas serta performanya dapat disesuaikan tanpa harus mengganti sistem secara keseluruhan.
Dari sisi efisiensi, Dell PowerStore menawarkan jaminan pengurangan data 5:1 melalui kombinasi deduplikasi dan kompresi cerdas yang bekerja secara otomatis tanpa perlu konfigurasi kompleks. Dalam kondisi tertentu, rasio efisiensi bahkan bisa mencapai 20:1, membantu perusahaan menekan biaya penyimpanan sekaligus meningkatkan pemanfaatan kapasitas dengan cukup signifikan.
Dari sisi operasional, Dell PowerStore dilengkapi kemampuan self-optimizing dan dukungan Dell AIOps serta automasi end-to-end yang terintegrasi dengan ekosistem Dell. “Keunggulan lain terletak pada keamanan data. Dengan fitur multiparty authorization, solusi ini membuat setiap tindakan kritis dapat dikendalikan melalui persetujuan multi-pengguna demi mencegah perubahan yang tidak sah,” kata Jeffry.
Sementara itu, Dell Private Cloud dibangun di atas Dell Automation Platform untuk menghadirkan pengalaman private cloud yang konsisten, baik di lingkungan on-premises maupun berbasis Software-as-a-Service (SaaS). Solusi ini menyediakan portal terpusat untuk onboarding, orkestrasi, manajemen aset, hingga lifecycle management, sehingga operasional infrastruktur dapat dijalankan secara terstandar dan otomatis.
Adrian Kustiawan, Presales Server x86 Head Multipolar Technology, menjelaskan, berbeda dengan pendekatan hyperconverged tradisional, Dell Private Cloud mengusung disaggregated infrastructure yang memungkinkan skala komputasi, penyimpanan, dan jaringan dilakukan secara independen, sehingga lebih fleksibel, tanpa vendor lock-in, dan memastikan pengoptimalan sumber daya sesuai beban kerja (workload).
Didukung portofolio storage Dell PowerStore, Dell Private Cloud tidak memerlukan perangkat keras khusus. Infrastruktur penyimpanan dapat dibangun menggunakan server dan storage Dell yang sudah ada, baik pada skenario menggunakan fasilitas baru (greenfield) maupun mengembangkan fasilitas yang sudah ada (brownfield), sehingga mempercepat implementasi sekaligus melindungi investasi yang telah berjalan.
Dari sisi biaya, data internal Dell menyebut disaggregated infrastructure mampu menekan biaya hingga 32% lebih rendah dibanding infrastruktur hyperconverged berkat kebutuhan server yang lebih sedikit, lisensi perangkat lunak yang lebih efisien, serta tingkat utilisasi storage dan komputasi yang lebih tinggi. “Ini menjadikan Dell Private Cloud pilihan strategis untuk memodernisasi data center dan implementasi AI perusahaan,” ungkap Adrian.
Jadi, dengan mengombinasikan Dell PowerStore dan Dell Private Cloud, perusahaan dari industri apa pun akan menikmati solusi private cloud yang lebih simpel, fleksibel, efisien, aman, dan otomatis. Tim TI perusahaan tidak dipusingkan lagi dengan manajemen data center seperti sebelumnya yang ribet, kompleks, dan berbiaya tinggi. “Jika ingin mengimplementasikannya, tim ahli dari Multipolar Technology siap membantu,” pungkas Jeffry. (H-2)
Tidak lagi sekadar memindahkan layanan ke kanal digital, perbankan kini dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks, yaitu melakukan modernisasi sistem inti perbankan, mengelola integrasi antarsistem dan proses bisnis, serta memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) secara praktis tanpa menimbulkan gangguan terhadap operasional yang sudah berjalan.
Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, PT Multipolar Technology Tbk. memperkenalkan N3CA Banking Platform. Solusi berupa platform perbankan digital terintegrasi ini dirancang untuk membantu bank melakukan modernisasi secara bertahap, sekaligus memanfaatkan AI secara tepat guna di berbagai lapisan proses bisnis.
Alih-alih fokus pada digitalisasi channel transaksi, N3CA diposisikan Multipolar Technology sebagai platform bisnis digital yang mencakup seluruh layer operasional perbankan.
Platform ini menyediakan digital product dan business use case siap pakai, sehingga bank dapat mengelola aktivitas nasabah tidak hanya di dalam sistem perbankan, tetapi juga dalam ekosistem digital yang lebih luas.
Arsitektur Terintegrasi untuk Modernisasi Sistem Bertahap
N3CA dibangun dengan arsitektur yang mengintegrasikan tiga fungsi utama dalam satu platform.
Lapisan Core Banking berfungsi sebagai fondasi sistem untuk menjalankan transaksi perbankan dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku di Indonesia.
Di atasnya, Orchestration Layer mengelola integrasi antarsistem dan proses bisnis melalui workflow automation.
Sementara itu, lapisan Innovation & Experience berperan sebagai enabler inovasi digital melalui konsep open banking dan layanan siap pakai.
Director Business Development Multipolar Technology, Sujanto Halim, mengatakan bahwa pendekatan ini memberi ruang bagi bank untuk berinovasi tanpa harus sepenuhnya mengganti core banking yang sudah ada.
“Kekuatan N3CA terletak pada kemampuannya memberikan keleluasan bagi bank untuk berinovasi tanpa ketergantungan penuh pada core banking existing, ditambah dengan pemanfaatan AI untuk memberikan nilai langsung di berbagai proses bisnis,” ujar Sujanto dalam seminar Future-Proofing Core Banking: Modernization without Disruption yang digelar Multipolar Technology di Jakarta.
Menurutnya, strategi API-first memungkinkan bank menghadirkan produk dan layanan digital baru dengan lebih cepat, tanpa harus melalui transformasi masif yang berisiko terhadap stabilitas operasional.
“N3CA siap mendukung bank menjadi bank digital melalui strategi API-first, sehingga bank dapat menghadirkan produk dan layanan digital baru dengan lebih cepat, tanpa harus melalui transformasi masif yang berisiko tinggi,” lanjut Sujanto.
Fokus Modernisasi dengan AI Tepat Guna
Salah satu fokus utama N3CA adalah penerapan AI tepat guna, yakni AI yang diintegrasikan langsung ke proses operasional perbankan, bukan berdiri sebagai inisiatif terpisah atau fragmented.
Dalam proses onboarding, N3CA memanfaatkan verifikasi dokumen berbasis AI dan Optical Character Recognition (OCR) untuk mempercepat proses Know Your Customer (KYC).
Platform ini juga dilengkapi automated fraud detection pada tahap awal akuisisi, serta chatbot dan asisten virtual yang mampu memahami konteks percakapan dalam bahasa Indonesia.
Pada pengelolaan transaksi dan layanan, N3CA menggunakan deteksi anomali secara real-time untuk mengidentifikasi transaksi mencurigakan, serta analitik prediktif untuk mendukung pengelolaan nasabah dan produk.
AI juga digunakan untuk mengh
Menurutnya, strategi API-first memungkinkan bank menghadirkan produk dan layanan digital baru dengan lebih cepat, tanpa harus melalui transformasi masif yang berisiko terhadap stabilitas operasional.
“N3CA siap mendukung bank menjadi bank digital melalui strategi API-first, sehingga bank dapat menghadirkan produk dan layanan digital baru dengan lebih cepat, tanpa harus melalui transformasi masif yang berisiko tinggi,” lanjut Sujanto.
Fokus Modernisasi dengan AI Tepat Guna
Salah satu fokus utama N3CA adalah penerapan AI tepat guna, yakni AI yang diintegrasikan langsung ke proses operasional perbankan, bukan berdiri sebagai inisiatif terpisah atau fragmented.
Dalam proses onboarding, N3CA memanfaatkan verifikasi dokumen berbasis AI dan Optical Character Recognition (OCR) untuk mempercepat proses Know Your Customer (KYC).
Platform ini juga dilengkapi automated fraud detection pada tahap awal akuisisi, serta chatbot dan asisten virtual yang mampu memahami konteks percakapan dalam bahasa Indonesia.
Pada pengelolaan transaksi dan layanan, N3CA menggunakan deteksi anomali secara real-time untuk mengidentifikasi transaksi mencurigakan, serta analitik prediktif untuk mendukung pengelolaan nasabah dan produk.
AI juga digunakan untuk menghadirkan personalisasi layanan, seperti rekomendasi produk, penyesuaian limit, hingga analisis sentimen.
adirkan personalisasi layanan, seperti rekomendasi produk, penyesuaian limit, hingga analisis sentimen.
Di sisi operasional internal, N3CA memanfaatkan Robotic Process Automation (RPA) untuk mengotomasi proses back-office, sehingga bank dapat meningkatkan efisiensi dan mengalihkan fokus ke pengembangan bisnis.
Banking Solution Presales & Delivery Head Multipolar Technology, Michael Ridwan, menegaskan bahwa setiap kapabilitas AI dalam N3CA dirancang agar memberi dampak nyata.
“Yang membedakan N3CA adalah pendekatan ‘AI tepat guna’. Setiap kapabilitas AI dalam N3CA dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik perbankan Indonesia, dengan implementasi yang praktis dan ROI yang terukur,” jelas Michael.
Mengelola Customer Journey Secara End-to-End
Dengan integrasi core system, orchestration, dan innovation layer, N3CA diarahkan untuk membantu bank mengelola customer journey secara menyeluruh.
Seluruh proses dapat dikendalikan dalam satu platform yang terhubung, mulai dari akuisisi, transaksi, layanan, hingga pengelolaan hubungan jangka panjang.
Pendekatan ini menjadi relevan di tengah percepatan adopsi digital dan AI di sektor keuangan, yaitu ketika bank dituntut tidak hanya cepat menghadirkan layanan baru, tetapi juga menjaga stabilitas, kepatuhan, dan pengalaman nasabah secara konsisten.
Melalui N3CA, Multipolar Technology memposisikan solusi ini sebagai platform perbankan generasi baru yang mengintegrasikan core system modern, AI, open banking, dan ekosistem digital untuk mendukung transformasi industri perbankan secara lebih terstruktur dan terukur.
Warta Ekonomi, Jakarta – PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), sebagai bagian dari PT Multipolar Tbk (MLPL), semakin mengukuhkan dedikasinya untuk menghadirkan terobosan lewat penyediaan solusi N3CA Banking Platform.
Platform ini merupakan solusi perbankan digital terpadu yang diperkaya dengan kecerdasan buatan (AI) yang relevan, dikembangkan untuk mempercepat transformasi digital sektor perbankan nasional melalui otomasi yang cerdas pada setiap lapisan proses bisnis.
Kehadiran N3CA Banking Platform menjadi respons terhadap tantangan yang dihadapi perbankan di Indonesia dalam menyajikan pengalaman digital yang menyeluruh serta meningkatkan efisiensi operasional.
Berbeda dari pendekatan konvensional yang berfokus pada digitalisasi channel transaksi, N3CA dirancang sebagai platform bisnis digital yang komprehensif di setiap layer.
Dilengkapi ready-to-use digital product dan business use case, N3CA mendukung peran bank dalam seluruh aktivitas nasabah, baik di dalam ekosistem perbankan maupun ekosistem digital yang lebih luas.
Arsitektur dengan Tiga Fungsi Utama yang AI Embedded
N3CA Banking Platform dibangun dengan arsitektur solusi komprehensif yang mengintegrasikan tiga fungsi utama dalam satu platform.
Fungsi Core Banking menjadi fondasi sistem perbankan yang solid untuk menjalankan seluruh transaksi perbankan dan comply dengan regulasi perbankan di Indonesia.
Fungsi Orchestration Layer berperan mengelola integrasi antar sistem dan proses bisnis melalui workflow automation.
Sementara itu, fungsi Innovation & Experience menjadi enabler inovasi digital yang cepat dan fleksibel melalui konsep open banking dan layanan perbankan siap pakai.
Sujanto Halim, Director Business Development Multipolar Technology, menjelaskan bahwa kekuatan N3CA terletak pada kemampuannya memberikan keleluasan bagi bank untuk berinovasi tanpa ketergantungan penuh pada core banking existing, ditambah dengan pemanfaatan AI untuk memberikan nilai langsung di berbagai proses bisnis.
“N3CA siap mendukung bank menjadi bank digital melalui strategi API-first, sehingga bank dapat menghadirkan produk dan layanan digital baru dengan lebih cepat, tanpa harus melalui transformasi masif yang berisiko tinggi,” ujar Sujanto dalam seminar “Future-Proofing Core Banking: Modernization without Disruption” yang digelar oleh Multipolar Technology di Jakarta, Selasa (20/1).
AI Tepat Guna: Automasi Cerdas untuk Hasil Nyata
N3CA Banking Platform mengintegrasikan kecerdasan buatan secara praktis dan terukur dalam berbagai proses kritis perbankan, sehingga AI menjadi bagian dari operasional dan strategi bisnis bank.
Dalam proses onboarding nasabah, N3CA memanfaatkan verifikasi dokumen berbasis AI dan Optical Character Recognition (OCR) untuk mempercepat proses Know Your Customer (KYC), yang didukung Automated Fraud Detection pada tahap awal akuisisi serta chatbot dan asisten virtual yang mampu memahami konteks percakapan dalam bahasa Indonesia.
Pada pemrosesan transaksi dan pengelolaan layanan, N3CA menggunakan deteksi anomali secara real-time untuk mengidentifikasi transaksi mencurigakan dengan akurasi yang lebih tinggi, serta analitik prediktif untuk mendukung pengelolaan nasabah dan produk.
AI juga dimanfaatkan untuk menghadirkan layanan yang lebih personal melalui rekomendasi, penyesuaian limit, dan analisis sentimen.
Di sisi internal, N3CA memanfaatkan Robotic Process Automation (RPA) untuk mengotomasi proses back-office, sehingga bank dapat meningkatkan efisiensi operasional dan fokus pada pengembangan bisnis.
“Yang membedakan N3CA adalah pendekatan ‘AI tepat guna’ kami. Setiap kapabilitas AI dalam N3CA dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik perbankan Indonesia, dengan implementasi yang praktis dan ROI yang terukur,” jelas Michael Ridwan, Banking Solution Presales & Delivery Head Multipolar Technology.
Dengan N3CA Banking Platform, perbankan Indonesia dapat memperkuat kendali terhadap seluruh customer journey nasabah.
Solusi ini hadir di tengah akselerasi transformasi digital dan adopsi AI di sektor keuangan, sekaligus menegaskan komitmen Multipolar Technology dalam mendukung industri perbankan nasional menghadapi era digital yang semakin kompetitif dengan teknologi yang tepat guna dan terukur.
“Melalui N3CA, Multipolar Technology menegaskan komitmennya dalam menghadirkan solusi perbankan generasi baru yang mengintegrasikan core system modern, AI, open banking, dan ekosistem digital guna mendukung pertumbuhan industri keuangan di era transformasi digital. Apabila ingin mengimplementasikannya, hubungi kami,” pungkas Sujanto.