Berita

01 December 2015, Metro TV - Ketika Broadcasting Bersandar Pada Infrastruktur TI

Infokomputer, Jakarta - Mengakomodasi pertumbuhan lalu lintas data yang eksponsial dan peralihan ke televisi digital, MetroTV mempersiapkan "jalan" untuk lalu lintas data yang lebih andal.

Transformasi digital yang tengah berlangsung di berbagai sektor industri dan bisnis, maupun consumer tak pelak akan terus mendorong pelak pertumbuhan lalu lintas data di jaringan. Dalam kurun waktu lima tahun mendatang, CIsco memperkirakan bahwa global IT traffic akan meningkat tiga kali lipat.

Dalam Visual Networking index 2014-2019 yang dirilis pada akhir Mei lalu, secara lebih rinci. Cisco juga mempredikisi IP traffic per tahun akan melewati ambang zetabyte (1.000exabyte) di tahun 2016, yakni 1,1 zetabyte per tahun atau 88,4 exabyte per bulan. Kemudian di tahun 2019, annual global IP traffic bahkan akan mencapai sebuah tonggak baru, melampaui ambang dua zetabyte/tahun atau 168 exabyte per bulan.

Index yang sama juga mengungkapkan bahwa IP traffic di lingkungan bisnis akan tumbuh dengan CAGR sebesar dua puluh persen dalam waktu lima tahun mendatang. dan Asia Pasifik akan menjadi kawasan dengan business IP traffic tertinggi, yakni sebesar 9,6 exabyte per bulan. Pertumbuhan ini akan terjadi di semua sektor industri dan bisnis, tak terkecuali industri media dan entertainment.

Pertumbuhan lalu lintas jaringan yang cukup signifikan ini juga dirasakan oleh MetroTV, salah satu stasiun televisi swasta nasional di Indonesia. "Presentase peningkatan penggunaanbandwidth lebih dari seratus persen, kalau dihitung dari tahun 2010 sampai saat ini. Bayangkan, dari uplink 4 Gbps, sekrang sudah mencapai 80Gbps untuk akses ke server farm," papar Waspan Arifin ( Chief, IT System & Network Administrator, Metro TV).

Digitalisasi konten maupun proses broadcasting berkontribusi cukup signifikan terhadap peningkatan kesibukan lalu lintas data di jaringan milik perusahaan yang bernaung di bawah Media Group ini. Teknologi broadcast yang digunakan di stasiun televisi ini sekarang bersandar pada infrastruktur TI alias sudah terkomputerisasi semua. Sementara produksi programin house pun, menurut Waspan, sudah berbasis digital, mulai dari material ingest sampai ketika program tersebut diudarakan.

Di sisi lain, kebutuhan digitalisasi ini tak lepas dari program televisi digital nasional yang telah dimulai sejak tahun 2008, dan seharusnya memasuki fase ke-3 tahun ini sampai 2017 nanti, di mana siaran televisi analog muali dimatikan. MetroTV, menurut Waspan, mulai membangun infrastruktur transmisi digital tahun 2012. "[Kami membangun] mulai dari infrastruktur internal sampai ke biro-biro dan televisi jaringan, " imbuh Waspan.

Inginkan Kecepatan Distribusi Media Content -  Perombakan perangkat dan jaringan komputer di lingkungan MetroTV bahkan dilakukan sebelum rencana televisi digital direalisasikan. "Ketika itu, tahun 2010, kami melihat infrastruktur yang ada sudah tidak memadai lagi dan kurang mumpuni untuk mengakomodasi kebutuhan bandwidth yang semakin besar," cerita Waspan.

Pria yang pernah berkarir di salah satu operator telekomunikasi di Indonesia ini sudah membayangkan betapa sibuknya jaringan MetroTV dalam beberapa tahun mendatang. "Kami bisa kewalahan kalau [saat itu] tidak segera mengganti perangkat jaringan yang existing," lanjutnya.

MetroTV sangat ingin menampilkan gambar dan layanan media yang berkualitas tinggi kepada para penontonnya. Bukan hanya dari sisi konten atau program, stasiun televisi ini juga ingin menyajikan tayangan dengan audio dan video yang berkualitas. Oleh karena itu, infrastruktur jaringan komputer harus mampu mengakomodasi pendistribusian media content berkualitas high definition dengan sangat cepat di belakang layar.

DI sisi infrastruktur teknologi, MetroTV memiliki rencana mengembangkan data center yang ada, sehingga kebutuhan mengganti perangkat jaringan memang tidak dapat ditawar lagi.

Dua Tahap Implementasi -  Menggunakan perangkat jaringan milik CIsco sejak lama, Metro TV masih memercayakan peningkatan kinerja jaringannya kepada vendor yang bermarkas di San Jose, California itu. Kami sudah cukup familiar dengan produk Cisco, baik untuk kebutuhan troubleshooting, konfigurasi, maupun pengoperasian," ujar Waspan Arifin saat diwawancara Infokomputer di kantor di bilangan Kedoya, Jakarta.

Menurut Waspan, produk jaringan Cisco cukup user friendly, bahkan orang awam pun bisa mempelajarinya secara otodidak. di sisi lain, menurut Waspan, cukup banyak pakar jaringan bersertifikat Cisco, sehingga solusi troubleshooting akan lebih mudah diperoleh.

Proses implementasi perangkat jaringan switch Cisco Nexus Series dimulai MteroTV pada tahun 2010 dan terdiri atas dua tahap. di Tahap pertama, tim TI MetroTV mengimplementasikan switch Nexus 7000 untuk melayani lalu lintas data di area broadcast dan area kantor. Switch berbasis prosesor intel Xeon ini difungsikan sebagai tulang punggung (backbonetraffic jaringan keseluruhan di kawasan Kedoya maupun sebagai switch pendistribusi data ke user.

Video adalah salah satu jenis data bervolume besar yang dilewatkan oleh Nexus 7000. "Lalu lintas antargedung sekitar 65% memang berupa data video, misalnya dari newsroom. Dan storage video termasuk penyimpanan yang paling sering diakses user," jelas Waspan.

Pada tahun 2014, MetroTV memulai pengembangan data center-nya. "Kami membutuhkan pipa yang lebih besar karena semua akses ke server farm terjadi di data center," ujar M. Fiki Mahdiana S (IT Network Administrator). Menggandeng Multipolar, MetroTV mengimplementasikan Cisco Nexus 5000 Series dan Nexus 2000 untuk menangani traffic di area data center tersebut.

"Nexus 5000 kami pasang di server farm dan terhubung ke lebih dari tujuh puluh server farm. Sementara Nexus 2000 kami gunakan untuk akses ke server yang belum [mendukungthroughput] 10 Gbps," jelas Waspan Arifin.

Beberapa penyesuaian elemen infrastruktur TI harus dilakukan MetroTV untuk mendukung kinerja Cisco Nexus. Pertama adalah penggantian storage dengan perangkat penyimpanan yang sudah mendukung uplink 10 Gbps.

"Ada beberapa yang harus kami ganti juga di remote area, terutama di sisi access switch. Selain karena sudah end of support, rasanya saya kalau Ethernet di komputernya sudah 10 Gbps tapi di sisi switch-nya masih 100 Mpbs, kurang optimal," jelas Fiki.

Virtualisasi Mudahkan Ekspansi -  Kemudahan pengelolaan dan pengembangan jaringan adalah manfaat utama yang dirasakan tim TI MetroTV dari implementasi switch Cisco Nexus. Fitur virtualisasi yang diusung Nexus memudahkan pengelolaan switch dan meningkatkan efisiensi. "Kami hanya punya dua perangkat, tapi bisa memperoleh delapan virtual switch. Lalu kami tinggal mengatur port-portnya saja," cerita Waspan.

Dengan jaringan yang tersegmentasi, MetroTV dapat merealisasikan routing per area. Proses ekspansi jaringan juga dapat dilakukan dengan cepat tanpa harus menunggu perangkat fisik baru. "Selain itu hierarki jaringannya sudah jelas, ada core, distribution dan access layer, bahkan kami ada area server farm. layer khusus untuk server-server," imbuh Waspan tentang kemudahakn deployment virtual switch baru.

Dan yang terpenting, infrastruktur jaringan MetroTV kini dapat mendukung kinerja broadcasting maupun bisni, antara lain lewat pendistribusian media content yang lebih cepat dan tanpa gangguan (smooth), serta kemudahan akses oleh user.